HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Dari Lincak ke Sekolah: Asa Arsad yang Dihidupkan Kembali oleh Sekolah Kemitraan

Laporan: Muhamad Nuraeni

KAB.SEMARANG | HARIAN7.COM – Di sebuah sudut desa sunyi di kaki perbukitan Sumowono, seorang remaja tampak duduk sendiri di atas lincak kayu tua di teras rumah berdinding bata tanpa plester. Di tangannya, sebuah buku terbuka. Pandangannya sesekali menerawang jauh ke depan, sebelum kembali menunduk pada halaman yang terbuka. Namanya Arsad Abi Mubarok. Usianya masih 15 tahun. Tapi kisah hidupnya sudah mengajarkannya tentang harapan, kesabaran, dan perjuangan.

Arsad adalah anak sulung dari pasangan Ratno Suratmin dan Parsiyah. Sang ayah merantau ke Kalimantan, menjadi buruh proyek dan hanya pulang lima bulan sekali. Sedangkan ibunya, setiap pagi berangkat ke ladang, menanam dan memanen sebagai buruh tani, lalu pulang saat langit mulai gelap. Pendapatan mereka cukup untuk makan, tapi tidak untuk biaya sekolah anak.

Setelah lulus dari SMPN 2 Sumowono, Arsad sempat terpaksa berhenti. Bukan karena ia tidak ingin melanjutkan pendidikan, tapi karena keluarganya tak sanggup membiayai. Sekolah negeri terdekat ada di Ambarawa—jaraknya 18 kilometer dari rumah. “Ingin sekolah di SMA Negeri tapi adanya di Ambarawa, dan itu jaraknya 18 kilometer,” ungkap Arsad, Jumat (11/7/2025). Biaya transportasi saja sudah menjadi beban berat.

Baca Juga:  Sidang Lanjutan Kasus Penembakan Bos Rental Mobil, Bukti Rekaman Video Akan Diputar

Sekolah swasta? Lebih dekat, tetapi lebih mahal. “Bapak itu kerja proyek di Kalimantan, dan pulangnya lima bulan sekali. Kalau ibu, hanya buruh tani,” ujarnya pelan. Tak ada pilihan yang benar-benar memungkinkan.

Harapan Itu Datang dari Pemerintah

Namun, harapan itu akhirnya datang—dari sebuah program bernama Sekolah Kemitraan, yang digagas oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. Program ini memungkinkan siswa dari keluarga tidak mampu untuk bersekolah di lembaga swasta dengan biaya yang ditanggung penuh oleh pemerintah. Gratis. Tanpa pungutan. Tanpa syarat berlebih.

“Ya saya senang bisa ikut program sekolah kemitraan dari Pak Luthfi. Dan tahun ini saya terdaftar di SMA Muhammadiyah Sumowono,” kata Arsad dengan sorot mata berbinar. Jarak sekolahnya kini hanya lima kilometer. Bisa ditempuh dengan sepeda atau bahkan jalan kaki, jika terpaksa.

Baca Juga:  Koni Banjarnegara Turun Gunung , Bagi Atlit Yang Bisa Menyumbangkan Emas Bonus Rp 70 Juta

Lebih dari sekadar bisa sekolah, Arsad kembali punya semangat dan tujuan. “Saya akan lebih bersemangat belajar, dan nantinya saya ingin dapat menaikkan derajat keluarga,” ucapnya penuh tekad.

Dukungan dari Sekolah dan Pemerintah

Program Sekolah Kemitraan bukan hanya wacana. Sekretaris Tim SPMB SMA Muhammadiyah Sumowono, Badriyah, menyebutkan bahwa pihak sekolah sangat mendukung kebijakan ini. Mereka bahkan aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar.

“Kalau mau sekolah ke negeri jaraknya jauh. Jadi dengan adanya sekolah kemitraan ini bisa memangkas jarak dan juga gratis,” ujarnya. Ia memastikan, program ini menyasar anak-anak yang benar-benar membutuhkan dan sesuai syarat.

Sementara itu, dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, data menunjukkan bahwa program ini telah menyerap 2.464 siswa. “Tahap satu ada 1.913 siswa dan di tahap dua ada 551 siswa, jadi total sementara ada 2.464 siswa. Dan sekarang masih menunggu dilakukan daftar ulang pada 11 Juli 2025,” terang Sekretaris Dinas, Syamsudin Isnaini.

Baca Juga:  MA Al Asror Cetak Generasi Emas: Berkarakter, Religius, dan Kompetitif

Asa yang Tak Lagi Jauh

Kini, lincak di teras rumah Arsad tidak lagi hanya menjadi tempat duduk termenung. Di sana, ia membuka buku-buku pelajaran dengan semangat baru. Rumah yang sederhana dengan lantai beralas tikar dan kamar mandi yang terpisah, tak lagi jadi batas bagi mimpi-mimpinya.

“Kalau kita semangat dan ada yang bantu, saya yakin bisa sekolah dan sukses,” katanya sambil tersenyum. Dan di situlah letak kekuatan sebenarnya—pada anak-anak seperti Arsad, yang tak pernah lelah berharap, dan pada kebijakan yang tahu ke mana harus menyasar.

Karena pendidikan bukan soal jarak, bukan soal uang. Tapi soal keberanian untuk membuka jalan—seperti yang telah dilakukan oleh program Sekolah Kemitraan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Content is protected !!