BOYOLALI, HARIAN7.COM – Kampanye menjaga alam tak selalu harus dilakukan melalui aksi penanaman pohon atau kegiatan serius lainnya. Di kaki Gunung Merbabu, para pemuda justru mengemas pesan konservasi melalui festival yang memadukan musik, tari, teater, puisi, hingga kegiatan berkemah.
Konsep tersebut dihadirkan dalam Bumintara Fest yang berlangsung selama dua hari, Sabtu-Minggu (7-8/11/2026), di Damalung Camping Ground, Desa Sampetan, Kecamatan Gladaksari, Kabupaten Boyolali.
Selain menikmati pertunjukan seni, peserta juga diajak terlibat langsung dalam kegiatan konservasi lingkungan melalui penanaman dan pembagian bibit pohon.
Penggagas Bumintara Fest, Ucup Rebel, mengatakan festival tersebut lahir dari keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan yang semakin masif.
Menurut dia, persoalan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di berbagai wilayah menjadi salah satu alasan pentingnya membangun kesadaran bersama untuk menjaga alam.
“Apalagi kita ketahui, di hampir semua wilayah terjadi kebakaran hutan dan lahan, yang hingga saat ini juga belum tuntas penyelesaiannya,” ungkap Ucup, Sabtu (7/11/2026).
Ia menjelaskan, Bumintara Fest merupakan festival kolektif yang diinisiasi para pemuda dari kawasan kaki Gunung Merbabu. Kegiatan perdana ini melibatkan komunitas pecinta alam dan pelaku seni.
Melalui pendekatan kesenian, penyelenggara ingin mengajak masyarakat membangun kepedulian terhadap lingkungan dengan cara yang lebih dekat, menyenangkan, dan melibatkan banyak kalangan.
“Intinya adalah Bumintara Fest membangun semangat gotong royong yang bertujuan menghidupkan semangat ekologi dan menyuarakan kecintaan kepada lingkungan dengan cara yang paling sederhana,” kata Ucup.
Selama dua hari penyelenggaraan, festival ini menghadirkan 11 penampil dari berbagai komunitas seni.
Beberapa di antaranya Sanggar Baswara, Zaki Akustik, Janggal, Trisala Reggae, Sedalu, Teater Gedebus, Lima Sore, Keroncong Pemuda Kekinian (KPK), dan Rebel Project.
Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah Teater Gedebus. Melalui pertunjukan teater, mereka menggambarkan kerusakan alam yang dipicu keserakahan para pemangku kebijakan.
Tak hanya menyampaikan pesan melalui panggung kesenian, Bumintara Fest juga menghadirkan aksi nyata penghijauan.
Sebanyak 200 bibit pohon kluweh dan pule ditanam di area konservasi. Selain itu, panitia membagikan 300 bibit pohon buah kepada peserta untuk ditanam dan dikembangkan di lingkungan masing-masing.
Melalui perpaduan seni, kebersamaan, dan aksi penghijauan, Bumintara Fest diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyuarakan kepedulian lingkungan sekaligus membangun gerakan gotong royong dalam menjaga alam.









Tinggalkan Balasan