Laporan: Budi Santoso
NGAWI | HARIAN7.COM – Pertanian ramah lingkungan tidak hanya berbicara soal mengurangi penggunaan bahan kimia, tetapi juga bagaimana petani mampu mengelola lahan secara lebih tepat dan efisien.
Hal itu terlihat dalam kegiatan Panen Demonstration Plot (Demplot) dan Farm Field Day Pengelolaan Tanaman Terpadu berbasis Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB) yang digelar Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Ngawi.
Kegiatan tersebut berlangsung bersama petani Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL PTT) PRLB yang tergabung dalam Gapoktan Ardi Lawu, Desa Babadan, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Selasa (15/9/2026).
Kepala DKPP Kabupaten Ngawi Supardi mengatakan, sekolah lapang tersebut menjadi ruang bagi petani untuk belajar menerapkan budidaya tanaman secara lebih tepat, efisien, sekaligus memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
“Petani tidak hanya belajar apa yang digunakan, tetapi juga memahami mengapa dan kapan harus digunakan,” ujar Supardi dalam arahannya.
Salah satu praktik yang dikenalkan kepada petani adalah pemanfaatan pH meter untuk mengetahui kondisi tanah.
Informasi mengenai kondisi tanah tersebut kemudian dapat menjadi dasar dalam menentukan pengelolaan lahan hingga kebutuhan pemupukan.
Selain itu, petani didorong membuat sarana produksi pertanian (saprodi) secara mandiri dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Cara tersebut diharapkan dapat menekan biaya produksi sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap input dari luar.
Produktivitas Naik 30 Persen
Hasil demplot menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian. Berdasarkan hasil pengamatan, produktivitas lahan demplot meningkat sekitar 30 persen dibandingkan lahan kontrol.
Capaian tersebut menunjukkan adanya peluang peningkatan produktivitas melalui penerapan prinsip Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan.
Menurut DKPP Ngawi, penerapan PRLB juga diarahkan pada pertanian terintegrasi, pemanfaatan sumber daya lokal, pengelolaan tanah secara berkelanjutan, serta pengurangan penggunaan input yang berpotensi memberikan dampak negatif terhadap lingkungan.
Ke depan, DKPP Kabupaten Ngawi berencana memperluas penerapan PRLB melalui penguatan sekolah lapang dan penambahan lokasi demplot sebagai tempat belajar petani.
Peningkatan kapasitas penyuluh juga akan dilakukan agar praktik-praktik pertanian ramah lingkungan dapat diterapkan lebih luas oleh kelompok tani lainnya.
Supardi menegaskan, pertanian berkelanjutan tidak semata-mata mengejar hasil panen dalam satu musim.
“Pertanian berkelanjutan bukan hanya tentang panen hari ini, tetapi juga tentang menjaga tanah, air, lingkungan, dan keberlanjutan usaha tani untuk generasi mendatang,” katanya.
DKPP Ngawi pun membawa semangat tersebut melalui slogan PRLB: “Lahan Sehat, Petani Hebat, Pertanian Berkelanjutan.”









Tinggalkan Balasan