Laporan: Fera Marita

KAB.SEMARANG | HARIAN7.COM – Ratusan siswa SMP Arunika dan SD School of Life Lebah Putih mengikuti kegiatan Kemah Alih Golongan di Bumi Perkemahan Kuncen, Desa Polobogo, Kabupaten Semarang.

Digelar selama tiga hari, mulai Sabtu hingga Senin (15–17/8/2026), kegiatan tersebut bertepatan dengan momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, kemah kali ini tidak hanya menjadi aktivitas kepramukaan, melainkan dirancang sebagai ruang belajar untuk membentuk karakter dan keterampilan hidup siswa.

Di tengah suasana alam terbuka, para siswa mendapatkan pengalaman langsung mulai dari mendirikan tenda, memasak secara mandiri, bekerja dalam kelompok, menjelajah lingkungan sekitar, hingga menyelesaikan berbagai tantangan bersama.

Ketua Panitia Kemah Alih Golongan 2026, Miftahudin, mengatakan kegiatan di luar sekolah memberikan pengalaman berbeda bagi siswa karena mereka belajar menghadapi situasi nyata.

“Sejak diumumkan rencana kemah ini, kakak fasilitator bekerja sama dengan orang tua untuk melatih beberapa keterampilan dasar, seperti memasak, merapikan dan menjaga barang pribadi, serta mencuci pakaian,” ujar Miftahudin.

Ia menjelaskan, terdapat empat kemampuan utama yang menjadi fokus dalam kegiatan tersebut, yakni kemandirian, kerja sama, pemecahan masalah, dan berpikir kritis.

Selain itu, kegiatan kemah juga menjadi sarana untuk melihat sejauh mana nilai-nilai dalam Dasa Darma Pramuka dapat diterapkan oleh para siswa dalam kehidupan sehari-hari.

“Melalui kemah ini kami ingin melihat apakah proses belajar yang dijalankan selama ini sudah berhasil dipraktikkan anak-anak atau belum. Setelah kegiatan selesai, kami juga akan melakukan refleksi bersama,” katanya.

Kemah Alih Golongan 2026 menghadirkan konsep pembelajaran yang berbeda. Hutan jeruk, ladang jagung, tenda, api unggun, serta berbagai tantangan selama perkemahan menjadi ruang kelas terbuka bagi para siswa.

Melalui kegiatan tersebut, SMP Arunika dan SD School of Life Lebah Putih berupaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan akademik, tetapi juga membangun karakter siswa agar lebih mandiri, mampu bekerja sama, berpikir kritis, serta siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Sebab bagi mereka, pengalaman yang dijalani secara langsung sering kali menjadi pelajaran yang paling melekat dibanding sekadar materi yang dipelajari di dalam kelas.