Laporan: Muhamad Nuraeni

SALATIGA | HARIAN7.COM – Sebanyak 3.167 pendidik resmi menyandang status guru profesional setelah dinyatakan lulus Uji Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (UKMPPG) Dalam Jabatan Batch 4 Tahun 2025 di Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga, Sabtu (20/6/2026).

Pengukuhan yang berlangsung di Auditorium Student Center Prof. Dr. H. Achmadi, Kampus 3 UIN Salatiga itu menjadi lebih dari sekadar seremoni akademik. Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), para guru diingatkan bahwa tugas utama mereka bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan menanamkan nilai, karakter, dan spiritualitas kepada generasi muda.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, yang hadir memberikan orasi ilmiah, menegaskan bahwa tantangan guru saat ini jauh lebih kompleks dibanding sekadar mengejar target kurikulum.

“Untuk mencari ilmu atau transfer of knowledge, anak-anak bisa memanfaatkan AI atau Google. Oleh karena itu, tugas utama guru hari ini adalah transfer of values, yaitu menanamkan karakter, moral, dan jangkar spiritual,” kata Wihaji.

Menurut dia, ancaman yang dihadapi anak-anak saat ini tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar, tetapi juga dunia digital yang menghadirkan berbagai persoalan seperti judi online, pornografi, perundungan siber, hingga renggangnya komunikasi dalam keluarga akibat tekanan ekonomi.

Karena itu, Wihaji menilai sekolah dan keluarga harus berjalan beriringan dalam membentuk generasi masa depan.

“Keluarga dan sekolah adalah dua sisi dari satu koin yang sama. Bangsa ini tidak akan pernah bisa mewujudkan Indonesia Emas 2045 jika kedua pilar tersebut berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Rektor UIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin, M.Ag., menyebut guru profesional memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara sekolah dan keluarga dalam menyiapkan generasi emas Indonesia.

“Generasi emas di sekolah harus tetap ditopang oleh keluarga yang kokoh, dan guru profesional adalah jembatan utamanya,” kata Zakiyuddin.

Ia mengingatkan bahwa sertifikat pendidik yang diterima para peserta bukan sekadar dokumen administratif, melainkan legitimasi profesional yang harus dibarengi dengan tanggung jawab moral.
Menurut Zakiyuddin, guru masa kini dituntut mampu menguasai teknologi sekaligus menjadi pembimbing karakter peserta didik.

“Guru wajib mengajarkan ilmu sekaligus membimbing karakter dan spiritualitas siswa. Di tengah gempuran nilai-nilai luar yang merusak lewat gawai, guru harus mampu menjadi oase bagi anak didik,” ujarnya.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan UIN Salatiga. Kerja sama itu bertujuan memperkuat program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) melalui jalur pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.

Direktur Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama RI, Dr. M. Munir, M.Ag., menambahkan bahwa sertifikat pendidik merupakan simbol kompetensi sekaligus tanggung jawab moral seorang guru di tengah perubahan zaman.

“Guru agama dan madrasah yang dikukuhkan hari ini wajib menguasai konten keilmuan secara mendalam sekaligus adaptif terhadap teknologi,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga, Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., menjelaskan bahwa dari total 3.167 peserta yang lulus, sebanyak 1.766 orang mengikuti prosesi secara langsung dan sisanya mengikuti secara daring.

Salah satu peserta yang dikukuhkan, Choerul Anas, guru MI Muhammadiyah Undaan, Kudus, mengaku bersyukur dapat menyelesaikan pendidikan profesi guru dan memperoleh sertifikat pendidik.

“Alhamdulillah rasanya senang. Ini bentuk perhatian negara kepada guru-guru Indonesia agar lebih profesional sekaligus lebih sejahtera,” kata Anas.

Guru yang telah mengajar selama enam tahun itu berharap sertifikasi profesi dapat menjadi motivasi bagi para pendidik untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran.

“Harapannya guru-guru semakin baik, semakin sejahtera, dan semakin semangat mendidik anak-anak bangsa,” ujarnya.