Laporan: Muhamad Nuraeni

SALATIGA | HARIAN7.COM – Menjelang Hari Raya Idul Adha, aktivitas jual beli hewan kurban di sejumlah lapak kambing di Kota Salatiga, Jawa Tengah, mulai meningkat. Namun di balik ramainya lalu-lalang pembeli, para pedagang mengaku tahun ini terjadi penurunan daya beli yang cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya.

Salah satu pedagang kambing, Suratman, mengatakan penjualan tahun ini cenderung lebih sepi. Ia menyebut kondisi tersebut sudah terasa sejak awal masa penjualan.

“Mulai hari Senin, sudah sekitar tujuh hari ini saya berjualan. Tapi kalau dibandingkan tahun lalu, agak kurang ramai,” ujar Suratman kepada harian7.com, saat ditemui di lapaknya Jalan Veteran tepatnya depan SPBU Pasar Sapi, Senin (25/5/2026).

Ia memperkirakan penurunan pembelian hewan kurban mencapai sekitar 40–45 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi adalah kondisi ekonomi masyarakat.

“Mungkin perkiraan saya karena perekonomian menurun, turun sekitar 40–45 persen dibanding tahun lalu,” katanya.

Meski demikian, Suratman tetap membuka lapaknya dengan stok kambing yang cukup banyak. Ia menyebut membawa sekitar 20 ekor kambing jenis Jawa Randu untuk dijual tahun ini.

“Yang di sini saya bawa 20 ekor, sudah laku sekitar 11 ekor,” jelasnya.

Menurutnya, harga kambing yang dijual bervariasi tergantung ukuran dan kondisi hewan, yakni berkisar antara Rp2,5 juta hingga Rp3,5 juta per ekor. Pembeli sebagian besar berasal dari wilayah sekitar Salatiga.

“Pembeli rata-rata dari sekitar Salatiga saja,” ujarnya.

Menariknya, sebagian pembeli sudah melakukan pemesanan jauh hari sebelum hari H dan mengambil kambing mendekati waktu penyembelihan atau sistem “H-1”.

“Bisa dititipkan dulu, ambilnya menjelang H-1, tidak ada biaya tambahan,” kata Suratman.

Untuk menjaga kualitas hewan kurban, para pedagang mengaku rutin memberi pakan bergizi serta vitamin agar kambing tetap sehat. Selain itu, sebagian hewan juga telah melalui pemeriksaan kesehatan dari dinas terkait.

“Dikasih makan bergizi, dikasih vitamin juga. Dari dinas kesehatan juga ada pemeriksaan,” ujarnya.

Suratman yang telah sekitar 15 tahun berjualan kambing kurban ini berharap kondisi penjualan bisa kembali membaik hingga hari-hari terakhir menjelang Idul Adha. Meski demikian, ia mengaku tetap menyerahkan hasil akhir kepada kondisi di lapangan.

“Harapannya bisa terjual semua, tapi ya itu Tuhan yang menentukan. Kita hanya berusaha. Kalau tidak laku, ya dibawa pulang lagi,” tuturnya.

Usaha penjualan kambing kurban ini sendiri bersifat musiman, meski ia juga tetap menjalankan aktivitas jual beli hewan di luar momen Idul Adha jika ada permintaan.

Salah satu pembeli, Yulianto, mengatakan ia sengaja datang lebih awal ke lapak penjualan hewan kurban untuk memilih kambing yang sesuai dengan kebutuhan sekaligus mengantisipasi kenaikan harga menjelang Idul Adha.

Ia mengaku, pembelian lebih awal memberikan keuntungan tersendiri karena stok hewan masih cukup banyak dan variasi pilihan masih beragam. Hal itu memudahkannya dalam menentukan hewan kurban yang diinginkan.

“Kalau beli lebih awal itu biasanya harga masih stabil dan pilihannya juga masih banyak. Jadi bisa lebih leluasa memilih,” ujarnya.

Yulianto menambahkan, dirinya juga mempertimbangkan kondisi kesehatan hewan sebelum membeli, sehingga membutuhkan waktu lebih untuk memastikan kambing yang dipilih benar-benar sesuai.