Laporan: Muhamad Nuraeni
SALATIGA | HARIAN7.COM – Di tengah semakin terbatasnya akses terhadap naskah kuno yang tersimpan secara pribadi, seorang kolektor di Kota Salatiga membuka koleksinya untuk didigitalisasi. Di antara belasan manuskrip yang dimiliki, terdapat naskah tertua yang diperkirakan berusia hampir 700 tahun dan salah satu koleksi lain yang mengisahkan perjalanan hidup Nabi Muhammad sejak masa kecil hingga dewasa.
Langkah digitalisasi ini dilakukan sebagai upaya menjaga warisan literasi agar tidak hilang akibat kerusakan fisik dan usia dokumen. Sebanyak 17 naskah kuno didokumentasikan dalam bentuk digital menggunakan standing scanner agar isi manuskrip tetap dapat dipelajari generasi mendatang tanpa harus terlalu sering menyentuh naskah asli.
Kolektor sekaligus pemilik Joglo Ki Penjawi, Iwan Gunawan Herdiwanto, mengatakan sebagian naskah yang dialihmediakan berasal dari koleksi pribadinya yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun.
“Memang koleksi yang paling tua itu sudah pernah diteliti oleh tim terkait. Diperkirakan usianya hampir 700 tahun, tetapi tetap perlu penelitian lanjutan, termasuk oleh ahli kertas,” ujarnya saat ditemui harian7.com, Senin (25/5/2026).
Menurut Iwan, mayoritas manuskrip yang dikoleksinya ditulis di atas kertas daluang, yakni bahan tulis tradisional yang dibuat dari serat tanaman dan banyak digunakan pada masa lampau. Ia menilai naskah-naskah tersebut menjadi bukti bagaimana pengetahuan dan nilai budaya diwariskan lintas generasi.
Selain berasal dari Pulau Jawa, sebagian koleksi juga diperoleh dari luar daerah, termasuk Lombok. Salah satu manuskrip yang menurutnya paling menarik merupakan kitab yang berisi kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad.
“Yang paling jauh saya dapat dari Lombok. Isinya menceritakan sejarah Nabi Muhammad, mulai dari masa kecil sampai dewasa,” katanya.
Bagi Iwan, nilai penting sebuah manuskrip tidak semata terletak pada usia atau kelangkaannya, melainkan pada pengetahuan yang tersimpan di dalamnya. Ia menilai masih banyak orang yang menyimpan kitab lama secara tertutup karena dianggap memiliki unsur kesaktian atau hanya boleh diketahui kalangan tertentu.
“Kalau memiliki kitab, menurut saya justru harus dipublikasikan supaya masyarakat bisa memahami sejarah, memahami budaya, dan mengetahui bagaimana ilmu ditransfer pada masa lalu,” ujarnya.
Ia juga meyakini perkembangan Islam di tanah Jawa tidak bisa dipisahkan dari pendekatan budaya yang digunakan para pendakwah pada masa itu. Wayang, tembang, hingga penggunaan aksara lokal menjadi jembatan agar ajaran lebih mudah diterima masyarakat.

Sementara itu, Pustakawan Ahli Muda Ipuk Wahyu Utami dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah mengatakan alih media menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan informasi yang tersimpan dalam naskah kuno.
“Tujuannya untuk melestarikan naskah kuno. Jika suatu saat terjadi kerusakan pada naskah asli, nantinya kita sudah memiliki hasil alih medianya,” ujar Ipuk saat ditemui harian7.com.
Ia menjelaskan, naskah yang didigitalisasi kali ini mencakup berbagai manuskrip tulisan tangan, di antaranya Surat Yusuf, Al-Qur’an, Surat At-Taubah, Surat Yasin, hingga kitab Safinatun Najah. Beberapa di antaranya telah teridentifikasi berasal dari tahun 1928, sementara dokumen lain masih menunggu kajian lebih lanjut.
Menurut Ipuk, proses digitalisasi bukan hanya menyelamatkan fisik dokumen, tetapi juga membuka peluang penelitian dan memperluas akses masyarakat terhadap khazanah literasi masa lalu.(*)









Tinggalkan Balasan