Laporan: Ratmaningsih

TEMANGGUNG | HARIAN7.COM – Persoalan gizi anak sering kali dimulai dari hal yang terlihat sepele: jajanan harian. Di tengah kebiasaan konsumsi makanan dan minuman tinggi gula yang makin mudah dijangkau, edukasi kepada orang tua dinilai menjadi pintu pertama untuk membangun generasi yang lebih sehat.

Atas dasar itu, Social Impact Initiatives Universitas Multimedia Nusantara (SII UMN) menggandeng Spedagi dan Pasar Papringan menggelar kegiatan bertajuk “Ibu Pintar Pilih Jajanan Anak” di Dusun Ngadiprono, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Sabtu (23/5/2026).

Kegiatan yang diikuti 15 peserta dan enam anak ini melibatkan ibu rumah tangga, kader posyandu, hingga pemilik warung setempat. Bukan tanpa alasan, kelompok tersebut dinilai menjadi pihak yang paling dekat dalam menentukan pola konsumsi anak sehari-hari.

Project Manager Pasar Papringan, Ika Permata Hati, mengatakan program tersebut lahir dari hasil observasi lapangan SII UMN yang menemukan masih adanya tantangan kesehatan anak di wilayah tersebut, mulai dari kondisi gigi rusak hingga tubuh yang cenderung kurus akibat belum optimalnya pemenuhan gizi seimbang.

“Lewat Pasar Papringan, kami memang mendorong produk lokal yang sehat dan punya cerita. Es tusuk buah ini cocok sekali jadi produk baru warung warga sekaligus mendukung gerakan Spedagi untuk desa yang berdaya,” kata Ika.

Dalam sesi talkshow, ahli gizi Novitasari Tribuana Tungga Dewi, S.Gz mengingatkan bahwa pola makan anak tidak terbentuk secara instan, melainkan dimulai dari keputusan kecil yang dibuat orang tua setiap hari.

“Pola makan anak itu dibentuk dari rumah. Kalau ibunya pintar pilih jajanan, anak akan terbiasa dengan yang sehat. Gula berlebih itu pelan-pelan merusak gigi dan bisa memicu obesitas dini,” jelasnya.

Edukasi tidak berhenti pada teori. Peserta juga diajak melihat tutorial pembuatan es tusuk buah berbahan dasar buah asli seperti semangka, melon, dan anggur dengan tambahan gula minimal tanpa pewarna buatan.

Pendekatan ini dipilih agar konsep makanan sehat tidak terasa jauh atau mahal. Selain menjadi alternatif jajanan anak, produk sederhana tersebut juga diperkenalkan sebagai peluang usaha rumahan bagi warga.

Antusiasme terlihat sepanjang kegiatan. Diskusi berkembang dari persoalan kebiasaan jajan anak hingga tantangan orang tua saat membangun pola makan sehat di rumah.

Salah satu peserta, Siti Rokhimah (34), pemilik warung di Ngadiprono, mengaku mendapat perspektif baru.

“Ternyata membuat es buah sehat itu gampang dan modalnya kecil. Habis ini mau coba bikin di rumah buat anak sendiri dan kalau bisa dijual di warung juga,” ujarnya.

Perwakilan SII UMN, Clearesta Pretty Eudora Zebua, berharap kegiatan serupa dapat menjadi langkah awal perubahan perilaku konsumsi di tingkat keluarga.

“Harapannya ibu-ibu di Ngadiprono jadi lebih selektif pilih jajanan dan bisa bikin sendiri di rumah. Kolaborasi dengan Spedagi dan Pasar Papringan ini bukti kalau isu gizi bisa dikawinkan dengan pemberdayaan ekonomi,” tuturnya.

Kegiatan ditutup dengan pembagian es tusuk buah hasil demonstrasi kepada anak-anak dan foto bersama seluruh peserta. Dari sebuah jajanan sederhana, pesan yang ingin dibawa cukup besar: anak tidak hanya perlu kenyang, tetapi juga bertumbuh dengan asupan yang sehat, agar desa ikut tumbuh bersama generasi yang lebih kuat.