Laporan : Shodiq

SEMARANG,HARIAN7.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah resmi melakukan terobosan besar dengan menginisiasi penyisipan (insersi) kurikulum perkoperasian ke dalam jenjang pendidikan dasar hingga menengah. Langkah ini diklaim sebagai yang pertama di Indonesia untuk membangkitkan kembali marwah ekonomi kerakyatan sejak dini.

Sekda Provinsi Jateng, Sumarno, menegaskan bahwa langkah strategis ini bertujuan untuk menginternalisasi nilai gotong royong dalam bisnis kepada generasi muda.

“Ini mungkin yang pertama di Indonesia. Kita ingin menginternalisasi pemahaman koperasi sejak jenjang SD, SMP, hingga SMA. Harapannya, koperasi masa depan dikelola SDM yang benar-benar memahami ruhnya,” ujar Sumarno usai membuka Focus Group Discussion (FGD) Finalisasi Insersi Kurikulum Pendidikan Perkoperasian di Kota Semarang, Selasa (5/5/2026).

Sumarno menyoroti mulai pudarnya eksistensi koperasi di masyarakat. Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah rendahnya kualitas SDM dan pemahaman esensi koperasi yang sering kali disamakan dengan bisnis umum.

“Koperasi itu unik, gabungan bisnis dan nilai sosial. Ada kebersamaan dan kedaulatan anggota. Inilah yang harus dipahamkan kembali agar kegagalan masa lalu tidak terulang,” tegasnya.

Inisiatif ini juga dirancang untuk mendukung program Presiden RI terkait Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Pemprov Jateng berencana membawa draf kurikulum ini ke tingkat pusat agar bisa diadopsi menjadi standar nasional oleh Menteri Koperasi.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM Jateng, Dwi Silo Raharjo, menambahkan bahwa kurikulum ini akan diterapkan di sekolah naungan Dinas Pendidikan maupun Madrasah di bawah Kementerian Agama.

“Pendidikan ekonomi selama ini terlalu umum. Kita ingin mengangkat kembali pentingnya pendidikan perkoperasian seperti era 80-an, namun dengan modul yang lebih aplikatif,” jelas Dwi.

Pemerintah menargetkan kurikulum ini sudah bisa dieksekusi pada tahun ajaran baru mendatang, atau sekitar tiga bulan lagi. FGD ini melibatkan 40 ahli dari berbagai unsur, mulai dari Kanwil Kemenag, Dinas Pendidikan, hingga praktisi koperasi guna memastikan materi yang disusun sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Dengan langkah ini, Jawa Tengah optimis akan lahir generasi muda yang cerdas finansial sekaligus memiliki jiwa sosial untuk memperkuat fondasi ekonomi bangsa. (*)