HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Sektor Informal Dominan, Wamenaker Dorong Pemuda Jadi Pencipta Lapangan Kerja

JAKARTA | HARIAN7.COM – Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menyoroti masih dominannya sektor informal dalam struktur ketenagakerjaan nasional. Ia menegaskan, generasi muda perlu mengambil peran lebih besar sebagai pencipta lapangan kerja di tengah terbatasnya daya serap pasar kerja formal.

Menurut Afriansyah, lebih dari 155 juta angkatan kerja Indonesia saat ini berada di sektor informal, sementara jutaan lainnya belum terserap. Kondisi tersebut menjadi tantangan serius yang menuntut peningkatan kualitas dan daya saing sumber daya manusia, terutama di kalangan pemuda.

Baca Juga:  Pesona Bonsai di Balung Kawuk: Pameran “Jemur Bonsai Bumi Angling Dharma” Pererat Komunitas dan Angkat Pariwisata Lokal

“Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari angka statistik, tetapi mampu menunjukkan kemampuan melalui tindakan nyata,” ujar Afriansyah saat menghadiri pelantikan Biru Muda Project bertajuk “UNWRAP: From Potential to Impact Conference 2026”, Sabtu (2/5/2026).

Ia menilai kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri masih menjadi faktor utama yang menghambat penyerapan tenaga kerja. Karena itu, diperlukan transformasi menyeluruh dalam pembangunan SDM agar lebih adaptif terhadap perubahan zaman.

Baca Juga:  Panen Jagung Kuartal I, Polres Salatiga Dorong Ketahanan Pangan Lokal

Dalam konteks tersebut, pemuda didorong untuk tidak hanya berorientasi sebagai pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang melalui inovasi, kewirausahaan, dan pemanfaatan teknologi digital.

“Generasi muda memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi melalui penciptaan peluang kerja baru, terutama di era digital,” katanya.

Afriansyah menambahkan, pemerintah terus memperkuat ekosistem ketenagakerjaan melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan media.

Sebagai langkah konkret, Kementerian Ketenagakerjaan menetapkan empat pilar strategis pada 2026, yakni penguatan pelatihan vokasi melalui skilling dan reskilling, pengembangan Talent and Innovation Hub (TIH), perluasan akses pelatihan termasuk bagi penyandang disabilitas, serta peningkatan produktivitas melalui Labor Productivity Clinics.

Baca Juga:  Polemik Sumur Bor di Dusun Glagah: Status Tanah Wakaf dan Pengelolaan Air Masih Simpang Siur

Selain itu, pengembangan talenta juga dilakukan melalui pendekatan inkubasi untuk mendorong lahirnya wirausaha digital baru, termasuk di sektor ekonomi kreatif dan industri hijau.

“Seluruh program tersebut merupakan bagian dari strategi terintegrasi untuk membangun ekosistem ketenagakerjaan yang adaptif, inklusif, dan berdaya saing global,” ujar Afriansyah.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!