HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Klarifikasi Kasus Dugaan Pelecehan, Ketua PBVSI Depok, Ancam Cabut Sertifikat hingga Izin Klub

DEPOK | HARIAN7.COM – Ketua Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia Kota Depok, Satya Wiryawan, menyampaikan klarifikasi resmi atas mencuatnya dugaan kasus yang melibatkan salah satu pelatih voli di wilayahnya. Ia menegaskan bahwa informasi terkait kasus tersebut baru diterima dari pengurus tingkat provinsi, bukan dari laporan internal.

Menurut Satya, komunikasi awal terjadi pada 8 April 2026 saat pihak PBVSI Jawa Barat menanyakan keberadaan pelatih yang dimaksud. Menindaklanjuti hal itu, PBVSI Depok segera melakukan penelusuran dan verifikasi ke klub terkait guna memastikan kebenaran informasi.

“Hasilnya, kasus ini ternyata sudah berlangsung sejak Januari. Namun kami tidak pernah menerima laporan resmi, baik dari klub maupun orang tua atlet,” ujarnya,saat membuka seleksi Popwilda Jatimulya, Cilodong (25/04/2026)

Baca Juga:  Kemenag Turun Tangan, Guru Madrasah di Depok Segera Dapat Insentif Layak

Ia menjelaskan, absennya laporan membuat organisasi tidak memiliki dasar untuk mengambil langkah lebih dini. PBVSI Depok, lanjutnya, hanya dapat bertindak berdasarkan laporan yang masuk secara resmi.

Setelah diketahui bahwa perkara tersebut telah ditangani aparat penegak hukum, pihaknya memilih mengikuti arahan provinsi untuk menunggu proses hukum berjalan.

Sebagai tindak lanjut, PBVSI Jawa Barat mengeluarkan keputusan pada 20 April 2026 yang menetapkan penonaktifan sementara terhadap pelatih yang bersangkutan. Kebijakan tersebut langsung diimplementasikan di tingkat kota dengan melarang yang bersangkutan melakukan aktivitas kepelatihan di Depok maupun wilayah Jawa Barat.

“Kami menjalankan keputusan organisasi. Statusnya nonaktif sementara hingga ada putusan hukum yang berkekuatan tetap,” jelas Satya.

Baca Juga:  BPN Depok Berikan Kado Istimewa di Hari Santri, Berikut Penjelasannya 

Menanggapi anggapan publik terkait kelalaian, Satya menolak tudingan tersebut. Ia menegaskan bahwa keterlambatan respons terjadi karena tidak adanya pelaporan sebelumnya.

“Ini bukan bentuk kelalaian. Justru kami mengetahui setelah ada informasi dari provinsi, bukan dari internal,” tegasnya.

Satya juga mengaku terkejut saat dikonfirmasi mengenai adanya dua korban dalam kasus tersebut. Ia menyebut tidak pernah menerima informasi sebelumnya dan menyayangkan sikap klub yang dinilai tidak terbuka.

“Kami kaget dan tidak mengetahui sama sekali. Sangat disayangkan jika ada pihak klub yang seolah menutupi kejadian dengan tidak memberikan informasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, klub tersebut selama ini dikenal memiliki kondisi yang baik dengan jumlah atlet yang cukup banyak, sehingga kasus ini di luar dugaan.

Baca Juga:  Fraksi PKB DPRD Depok Apresiasi Raperda HAM Meski Sempat Pertanyakan Urgensi

Ke depan, PBVSI Depok akan memperkuat mekanisme kontrol melalui koordinasi intensif dengan seluruh klub. Evaluasi menyeluruh juga akan dilakukan, termasuk kemungkinan pemberian sanksi tegas bagi pihak yang tidak mematuhi aturan.

Satya menegaskan, apabila pelatih yang bersangkutan terbukti bersalah melalui proses hukum yang berkekuatan tetap, organisasi tidak akan ragu menjatuhkan sanksi maksimal.

“Kalau memang terbukti bersalah, PBVSI berhak mencabut sertifikat hingga izin klub,” tegasnya.

Ia berharap peristiwa ini menjadi momentum perbaikan bersama, terutama dalam membangun transparansi dan sistem perlindungan atlet yang lebih kuat.

“Semua pihak harus terbuka. Jika ada persoalan, segera laporkan. Ini penting agar pembinaan berjalan aman, sehat, dan profesional,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!