Laporan: Muhamad Nuraeni
SALATIGA|HARIAN7.COM – Membaca buku bisa menjadi cara sederhana untuk menambah wawasan, termasuk bagi mereka yang sedang menjalani masa pembinaan di balik jeruji.
Hal itu yang coba dilakukan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Salatiga dengan menghadirkan layanan perpustakaan keliling bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), Selasa (15/9/2026).
Program tersebut merupakan hasil kerja sama Rutan Salatiga dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Salatiga. Layanan perpustakaan keliling itu hadir secara rutin setiap pekan.
Tak perlu warga binaan keluar mencari buku. Berbagai bacaan justru dibawa masuk ke lingkungan Rutan.
Warga binaan bisa memilih buku sesuai minat, mulai dari buku pengetahuan, agama, keterampilan, hingga bacaan umum.
Kehadiran layanan tersebut diharapkan membuat waktu luang warga binaan tidak hanya berlalu begitu saja. Membaca menjadi salah satu kegiatan edukatif yang dapat membantu menambah pengetahuan sekaligus mendukung proses pengembangan diri selama menjalani pembinaan.
Kepala Rutan Salatiga, Anda Tuning Supiluhu, mengapresiasi dukungan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Salatiga yang secara konsisten menghadirkan layanan tersebut.
“Kami sangat mengapresiasi kerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Salatiga. Kehadiran perpustakaan keliling ini memberikan akses bacaan yang lebih luas bagi warga binaan,” ujar Anda Tuning.
Menurut dia, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan minat baca. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari buku juga diharapkan bisa menjadi bekal ketika warga binaan kembali ke tengah masyarakat.
Antusiasme juga datang dari warga binaan.
Pramono, salah satu warga binaan, mengaku senang karena setiap pekan tersedia buku-buku yang bisa dibaca.
“Kami senang karena setiap minggu ada buku-buku baru yang bisa dibaca. Jadi waktu luang bisa digunakan untuk membaca dan menambah pengetahuan. Semoga kegiatan seperti ini terus berjalan,” kata Pramono.
Bagi Rutan Salatiga, perpustakaan keliling menjadi salah satu bagian dari upaya menciptakan lingkungan pembinaan yang lebih edukatif dan produktif.
Kerja sama dengan pihak luar juga terus didorong agar akses pendidikan dan literasi bagi warga binaan semakin terbuka.
Sebab, masa pembinaan bukan semata soal menjalani hukuman. Ada pengetahuan yang perlu ditambah dan keterampilan yang perlu disiapkan sebelum mereka kembali menjalani kehidupan di masyarakat.(*)









Tinggalkan Balasan