Laporan: Muhamad Nuraeni
Semarang | Harian7.com – Kemampuan mengelola sekolah dinilai tidak cukup untuk menjawab tantangan dunia pendidikan saat ini. Karena itu, sebanyak 136 pemimpin Sekolah Islam Terpadu (SIT) di Jawa Tengah mengikuti Mukhoyyam Al-Qur’an Special for Leader sebagai ikhtiar memperkuat kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an.
Kegiatan yang berlangsung di Kampus SMAIT Bina Amal Semarang pada 3–5 Juli 2026 itu diikuti pengurus JSIT Indonesia Wilayah Jawa Tengah, pengurus JSIT daerah kabupaten/kota, ketua yayasan, dan kepala sekolah dari berbagai wilayah di Jawa Tengah.
Selama tiga hari, para peserta menjalani rangkaian pembinaan yang memadukan penguatan spiritual dan kebersamaan. Kegiatan meliputi halaqah Al-Qur’an, qiyamullail, taujih, murojaah hafalan, fun game, hingga forum berbagi pengalaman antarpemimpin sekolah.
Ketua JSIT Indonesia Wilayah Jawa Tengah, Hananto Widhiaksono, mengatakan Mukhoyyam Al-Qur’an dirancang agar para pemimpin lembaga pendidikan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam memimpin sekaligus mendidik generasi penerus.
“Mukhoyyam Al-Qur’an ini menjadi wasilah bagi para pemimpin untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Al-Qur’an harus menjadi bekal utama dalam memimpin lembaga pendidikan dan mendidik generasi masa depan agar tumbuh menjadi generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia,” kata Hananto.
Menurut dia, kepemimpinan yang kuat tidak hanya lahir dari kemampuan mengatur organisasi, tetapi juga dari kedekatan seorang pemimpin dengan nilai-nilai Al-Qur’an yang menjadi dasar dalam setiap kebijakan.
Ketua Tim Pengembangan Pembelajaran Al-Qur’an JSIT Indonesia Wilayah Jawa Tengah, Nanang Kosim, menilai kegiatan tersebut memiliki nilai strategis karena menyasar para pengambil kebijakan di sekolah.
“Mukhoyyam ini spesial karena dihadiri oleh para pimpinan lembaga. Harapannya, Al-Qur’an semakin menggema di seluruh Sekolah Islam Terpadu. Bukan hanya pembelajarannya yang berkembang, tetapi ruh Al-Qur’an benar-benar terasa dan memberikan dampak dalam budaya sekolah maupun kepemimpinan,” ujarnya.
Seluruh peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang didampingi musyrif dan muayrifah. Melalui pendampingan itu, peserta melakukan murojaah, menyetorkan hafalan, berdiskusi, serta saling menguatkan pengalaman dalam memimpin lembaga pendidikan.
Salah seorang peserta asal Kabupaten Blora, Henny Solikhati, mengaku rela mengubah jadwal ujian kuliahnya agar dapat mengikuti kegiatan tersebut.
“Mukhoyyam Al-Qur’an ini sudah menjadi agenda prioritas yang selalu saya usahakan untuk diikuti setiap tahun. Bahkan, demi mengikuti kegiatan ini saya harus menjadwalkan ulang ujian semester kuliah. Alhamdulillah, semua terbayar dengan ilmu, motivasi, dan keberkahan yang saya dapatkan selama mengikuti mukhoyyam,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, JSIT Indonesia Wilayah Jawa Tengah berharap para pemimpin Sekolah Islam Terpadu mampu menghadirkan budaya Qur’ani dalam tata kelola sekolah, proses pembelajaran, hingga pembentukan karakter peserta didik sehingga Al-Qur’an benar-benar menjadi ruh dalam penyelenggaraan pendidikan.









Tinggalkan Balasan