Laporan: Muhamad Nuraeni
SALATIGA|HARIAN7.COM – Halaman Museum Salatiga dipenuhi ratusan warga yang ingin menyaksikan prosesi Jamasan Pusaka, Rabu (2/7/2026). Tradisi yang digelar di depan Prasasti Batu Tulis Plumpungan itu menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak hanya disimpan, tetapi juga dirawat melalui ritual yang diwariskan lintas generasi.
Prosesi diawali dengan kirab bregada mengelilingi kawasan museum, kemudian dilanjutkan pembukaan resmi, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan doa bersama. Sejumlah unsur pemerintah, aparat keamanan, hingga tokoh masyarakat turut mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.
Hadir dalam acara itu anggota DPRD Kota Salatiga, Hartoko, bersama perwakilan Polsek Sidorejo, jajaran TNI, dan tokoh masyarakat. Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan dukungan terhadap upaya pelestarian tradisi lokal.
Puncak acara ditandai dengan kirab pusaka menuju lokasi penjamasan. Puluhan benda pusaka milik anggota Komunitas SAKRAL kemudian dibersihkan dalam prosesi yang dipimpin oleh Ki Bayu dan Ki Siswanto.
Salah satu hal yang menarik perhatian adalah penggunaan Air Perwitasari sebagai media jamasan. Air tersebut diracik dari tujuh sumber mata air berbeda di wilayah Salatiga, yang dipercaya melambangkan kesucian sekaligus harapan agar nilai-nilai luhur tetap mengalir kepada generasi berikutnya.
Dalam prosesi tersebut, Hartoko juga tampak ikut menuangkan air jamasan ke salah satu tombak pusaka, menandai keterlibatan pemerintah dalam menjaga tradisi budaya.
“Ini adalah budaya leluhur yang harus kita perhatikan dan kita pertahankan. Jamasan bukan hanya ritual, tapi juga cara kita menjaga sejarah agar tidak hilang ditelan zaman,” ujar Hartoko di sela kegiatan.
Suasana berlangsung khidmat sejak awal hingga akhir acara. Warga yang memadati kawasan museum mengikuti prosesi dengan tertib, sementara banyak di antaranya mengabadikan momen yang kini semakin jarang diselenggarakan secara terbuka.
Bagi masyarakat Salatiga, jamasan bukan sekadar membersihkan benda pusaka. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah, identitas budaya, dan ikhtiar menjaga nilai-nilai warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.









Tinggalkan Balasan