HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Tinggalkan Gawai, Siswa Kelas IX SMPIT Nidaul Hikmah Salatiga Tempa Empati lewat “Live In” di Desa Cendana

Laporan: Muhamad Nuraeni

SALATIGA | HARIAN7.COM – Di tengah arus digital yang kian melekat dalam kehidupan remaja, ratusan siswa kelas IX SMPIT Nidaul Hikmah Salatiga justru diajak “mundur sejenak” dari layar gawai. Sebanyak 102 siswa mengikuti program pendidikan karakter bertajuk Live In di Desa Cendana, Kabupaten Purbalingga, selama delapan hari, 27 April hingga 4 Mei 2026.

Program ini bukan sekadar kegiatan luar kelas biasa. Para siswa tidak tinggal di tenda atau penginapan, melainkan hidup bersama keluarga warga sebagai “anak asuh”. Mereka menyatu dalam keseharian masyarakat desa, mulai bangun sebelum subuh, membantu memasak, mencari kayu bakar, hingga bekerja di sawah dan ladang.

Baca Juga:  Hut Ke 28, Bank Salatiga Diminta Jadi Pilar Ekonomi Daerah yang Kuat dan Terpercaya

Guru pendamping kegiatan, Ikhsan Fahmi, menuturkan bahwa Live In dirancang sebagai sarana pembelajaran nyata yang tidak bisa digantikan oleh teori di kelas.

“Tujuan utama Live In ini adalah memutus sejenak ketergantungan anak-anak pada fasilitas instan dan gawai. Melalui interaksi langsung dengan induk semang, kami berharap dapat menumbuhkan empati, kemandirian, dan kemampuan memecahkan masalah. Ini adalah bekal karakter yang tidak bisa hanya diajarkan melalui buku teks di kelas,” ujar Ikhsan.

Kehadiran para siswa disambut antusias oleh masyarakat Desa Cendana. Kepala Desa Cendana, Sujono, menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini membuka ruang interaksi lintas budaya antara generasi muda perkotaan dan masyarakat desa.

Baca Juga:  Bentor Tersambar Kereta di Surabaya: Tiga Korban Meninggal di Tempat, Ini Jelasnya 

“Desa kami sangat terbuka menjadi tempat belajar. Harapan kami, anak-anak ini bisa merasakan langsung nilai-nilai luhur pedesaan, seperti semangat gotong royong, kesederhanaan, dan sopan santun yang mungkin mulai pudar di perkotaan,” kata Sujono.

Bagi siswa, pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam. Avinza Meivano, salah satu peserta, mengaku sempat mengalami culture shock saat pertama kali menjalani aktivitas di desa.

“Awalnya capek sekali karena harus bangun sangat pagi dan membantu bekerja di ladang. Tapi dari keluarga asuh di sini, saya belajar arti syukur yang sesungguhnya. Hidup di sini sederhana, tapi warga selalu terlihat ikhlas dan bahagia. Pengalaman ini membuat saya lebih menghargai apa yang saya miliki di rumah,” ungkapnya.

Baca Juga:  Mainan Tradisional Viral di TikTok, Begini Cara Main Lato-Lato

Melalui program Live In, SMPIT Nidaul Hikmah menegaskan komitmennya dalam membentuk siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan ketangguhan mental. Di tengah dominasi teknologi, pengalaman hidup nyata seperti ini menjadi cara sekolah menghadirkan pendidikan yang lebih utuh, kmengasah hati sekaligus akal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!