HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Sedekah Bumi Jati Wetan: Dari Doa Hingga “Galeri Seni Berjalan” yang Menyatukan 2.000 Warga

Laporan: Tambah Santoso

KUDUS | HARIAN7.COM – Tradisi Sedekah Bumi di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, kembali menegaskan perannya bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ruang kolektif yang merawat harmoni sosial. Puncaknya, kirab budaya pada Minggu (3/5/2026) menyulap jalanan desa menjadi “galeri seni berjalan” yang melibatkan ribuan warga.

Sejak awal, rangkaian acara dirancang memadukan dimensi spiritual dan sosial. Khotmil Qur’an yang digelar di Gedung Graha Jati Semi pada Kamis malam (30/4/2026) menjadi pembuka, menghadirkan suasana khidmat sebagai ikhtiar memohon keselamatan dan keberkahan bagi desa.

Baca Juga:  Pawai Ramadhan SDIT Nidaul Hikmah, Kepala Sekolah Ajak Siswa Sambut Bulan Suci dengan Perubahan Lebih Baik

Nuansa kebersamaan berlanjut keesokan harinya. Sebanyak 3.000 porsi nasi jangkrik kuliner khas Kudus, dibagikan gratis kepada masyarakat. Tradisi berbagi ini menjadi simbol bahwa hasil bumi dan rezeki harus dirasakan bersama, melampaui batas sosial.

Kemeriahan mencapai puncak pada kirab budaya. Sebanyak 40 kontingen dari berbagai RT ambil bagian, menampilkan beragam kreativitas mulai dari parade busana adat, gunungan hasil bumi sebagai lambang kesuburan, hingga pertunjukan seni tradisional yang atraktif. Jalan desa pun berubah menjadi panggung ekspresi budaya yang hidup dan dinamis.

Baca Juga:  Kasus Kekerasan Seksual Anak di Karimunjawa Terungkap, Pelaku Diringkus Polisi

Kepala Desa Jati Wetan, Agus Susanto, menyebut partisipasi warga tahun ini sangat tinggi. “Sebanyak 40 kontingen dari berbagai RT mengikuti kirab dengan total peserta kurang lebih 2.000 orang. Antusiasme warga tetap terjaga meski kegiatan ini rutin digelar setiap tahun,” ujarnya.

Bagi masyarakat setempat, Sedekah Bumi adalah lebih dari tradisi, ia menjadi “ruh” desa yang menjaga keseimbangan antara warisan leluhur dan kehidupan modern. Momentum ini juga dinilai efektif mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.

Baca Juga:  Mereview Olahraga Nasional, Prioritas atau Terpinggirkan?

“Sedekah Bumi bukan sekadar tradisi, tetapi sarana mempererat persaudaraan antarwarga sekaligus memastikan budaya lokal tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang,” kata Agus.

Keberhasilan penyelenggaraan tahun ini kembali menunjukkan bahwa modernisasi tidak harus mengikis nilai-nilai tradisi. Di Jati Wetan, keduanya justru berjalan beriringan, saling menguatkan dalam satu perayaan yang menyatukan seluruh elemen masyarakat.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!