MAKAH | HARIAN7.COM – Muzdalifah menjadi salah satu titik paling sakral dalam rangkaian ibadah haji. Di hamparan tanah terbuka inilah jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia bermalam usai menjalani wukuf di , sebelum melanjutkan perjalanan menuju untuk melaksanakan lempar jumrah.
Pada malam 10 Dzulhijjah, kawasan Muzdalifah berubah menjadi lautan manusia yang larut dalam doa dan dzikir. Di bawah langit terbuka, para jemaah melaksanakan salat Maghrib dan Isya secara jamak qashar mengikuti sunnah Rasulullah SAW, dalam suasana yang tenang dan penuh kekhusyukan.
Nama Muzdalifah diyakini berasal dari kata zulaf al-layl yang menggambarkan kedatangan jemaah pada awal malam, atau dari kata izdalaf yang berarti “mendekat”. Makna tersebut mencerminkan perjalanan spiritual para jemaah yang semakin dekat menuju .
Secara geografis, Muzdalifah berada di antara Arafah dan Mina, sekitar delapan kilometer dari Masjidil Haram. Kawasan ini memiliki luas lebih dari 11,68 juta meter persegi dengan kapasitas mencapai lebih dari dua juta jemaah.
Namun, Muzdalifah bukan sekadar tempat persinggahan. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Al-Masy’ar Al-Haram.” Ayat tersebut menegaskan kedudukan spiritual Muzdalifah sebagai tempat memperbanyak dzikir dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Di tengah kawasan ini berdiri yang menjadi pusat ibadah dan doa para jemaah. Tempat tersebut juga memiliki nilai sejarah penting karena menjadi lokasi Rasulullah SAW bermalam sekaligus mengumpulkan batu kerikil untuk ritual lempar jumrah.
Dahulu, jemaah menjalani malam di Muzdalifah dengan fasilitas yang sangat sederhana. Kini, Pemerintah Arab Saudi terus melakukan berbagai pengembangan besar demi meningkatkan kenyamanan dan keselamatan jemaah haji.
Di bawah kepemimpinan dan , kawasan Muzdalifah mengalami transformasi signifikan melalui berbagai proyek modernisasi.
Salah satunya dilakukan oleh melalui pembangunan jalur pejalan kaki Mashaer Path seluas 170 ribu meter persegi. Jalur tersebut dilengkapi lantai karet ramah lingkungan yang membantu mengurangi panas dan kelelahan jemaah saat berjalan kaki.
Selain itu, tersedia berbagai fasilitas penunjang seperti area duduk, kipas kabut air, stasiun air minum, titik pengisian daya ponsel, jalur kendaraan dan mobil golf, hingga papan petunjuk arah untuk memudahkan mobilitas jutaan jemaah.
Modernisasi juga dilakukan oleh melalui peningkatan layanan di Masjid Al-Mash’ar Al-Haram. Perbaikan dilakukan pada sistem pencahayaan, audio, penyediaan karpet, hingga perluasan area salat perempuan.
Untuk menjaga keamanan selama puncak musim haji, otoritas Saudi turut mengoperasikan sistem digital modern dan kamera pintar yang memantau pergerakan jemaah secara real-time dari pusat kontrol utama.
Perpaduan antara kekuatan spiritual, sejarah panjang, dan dukungan teknologi modern menjadikan Muzdalifah bukan hanya tempat bermalam, melainkan simbol perjalanan suci yang menjadi jantung ibadah haji.









Tinggalkan Balasan