DEPOK | HARIAN7.COM – Kota Depok menghadapi tantangan serius dalam pengendalian penyakit tidak menular, khususnya Diabetes Melitus (DM). Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok menunjukkan lonjakan signifikan jumlah penderita DM yang tercatat secara resmi, dari 43.930 kasus pada 2023 menjadi 65.269 kasus pada 2025. Kenaikan ini mencapai hampir 48,56 persen dalam kurun waktu dua tahun.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, dr. Devi Maryori, mengungkapkan bahwa angka tersebut mencerminkan hasil deteksi yang semakin masif, namun juga mengindikasikan tingginya risiko kesehatan masyarakat di kota penyangga ibu kota ini. Kondisi ini sejalan dengan fakta bahwa Indonesia saat ini menempati peringkat ke-5 negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia.
“Lonjakan angka ini menjadi alarm bagi kita semua. Gaya hidup urban (urban lifestyle) di Depok berkontribusi besar terhadap peningkatan faktor risiko seperti obesitas dan hipertensi,” ujar Devi saat dikonfirmasi, Selasa (19/5/2026).
Temukan ‘Kasus Tersembunyi’ dengan Jemput Bola
Devi menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam penanganan diabetes adalah banyaknya “kasus tersembunyi” atau undiagnosed diabetes. Banyak warga, terutama usia produktif, yang tidak menyadari dirinya mengidap diabetes karena gejala awal yang minim (silent symptoms).
Data internal Dinkes Depok mencatat, cakupan Cek Kesehatan Gratis (CKG) baru mencapai 10 persen pada 2025. Selama ini, deteksi masih bersifat pasif, yakni menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dinkes Depok mengubah strategi menjadi skrining aktif berbasis komunitas.
“Kami tidak lagi hanya menunggu pasien datang. Tim kesehatan turun langsung melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dengan pendekatan jemput bola. Kami menyasar kelompok berisiko, melakukan pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS), serta mengidentifikasi faktor risiko seperti obesitas dan riwayat keluarga,” jelas Devi.
Selain itu, integrasi skrining rutin bagi warga berusia 15 tahun ke atas terus digencarkan di seluruh Puskesmas, baik melalui kunjungan rutin maupun opportunistic screening (skrining saat pasien berobat untuk keluhan lain).
Kolaborasi Lintas Sektor dan Evaluasi Germas
Devi mengakui bahwa angka 65.269 kasus kemungkinan masih bersifat underestimate atau belum menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan. Oleh karena itu, Dinkes Depok memperkuat kolaborasi lintas sektor melibatkan kelurahan, RT/RW, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), hingga sekolah untuk menjangkau orang tua murid.
Terkait efektivitas Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), khususnya kampanye pengurangan Gula, Garam, dan Lemak (GGL), Devi menyatakan bahwa upaya promotif-preventif terus dilakukan melalui senam massal, edukasi di puskesmas, dan promosi konsumsi buah serta sayur. Namun, perubahan perilaku masyarakat membutuhkan konsistensi dan waktu.
“Kampanye hidup sehat sudah berjalan, tetapi tantangannya adalah mengubah kebiasaan sehari-hari. Kami terus mendorong masyarakat untuk lebih sadar akan apa yang mereka konsumsi,” tambahnya.
Himbauan bagi Warga Depok
Mengingat tingginya risiko diabetes, Dinkes Kota Depok menghimbau masyarakat untuk menerapkan langkah pencegahan sederhana namun efektif:
1. Batasi Konsumsi GGL: Kurangi asupan gula, garam, dan lemak dalam makanan sehari-hari.
2. Perbanyak Serat: Tingkatkan konsumsi buah-buahan dan sayuran.
3. Aktif Bergerak: Lakukan aktivitas fisik atau olahraga secara rutin, minimal 30 menit setiap hari.
4. Cek Rutin: Periksa kadar gula darah secara berkala, terutama bagi yang memiliki faktor risiko.
5. Jaga Berat Badan: Pertahankan Indeks Massa Tubuh (IMT) dalam kategori ideal.
Dengan deteksi dini dan perubahan gaya hidup, Pemkot Depok optimis dapat menekan laju pertumbuhan kasus diabetes dan mencegah komplikasi yang lebih serius di masa depan.









Tinggalkan Balasan