HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Imbas Konflik Timur Tengah, UMKM Plastik Pringapus Kelimpungan Hadapi Kenaikan Bahan Baku

Laporan: Shodiq

UNGARAN,HARIAN7.COM – Lonjakan harga bahan baku plastik impor mulai memukul industri kecil menengah di Kabupaten Semarang. Di Desa Derekan, Kecamatan Pringapus, para produsen plastik kemasan terpaksa memangkas kapasitas produksi hingga separuh dari biasanya akibat harga biji plastik yang kian tak terkendali.

Andi Wahyu Utomo, salah satu produsen plastik di Pringapus, mengungkapkan bahwa tren kenaikan harga sebenarnya sudah terasa sejak pertengahan Ramadan. Namun, lonjakan drastis baru terjadi pasca-Lebaran sebagai imbas ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Baca Juga:  OJK Regional 3 dan DIY Dukung Pertumbuhan BPR di Jateng

“Bahan bakunya dari nafta dan itu impor dari Timur Tengah. Karena ada konflik Iran, Israel, dan Amerika, pasokan jadi terhambat dan otomatis harga naik tajam,” ujar Andi saat ditemui di lokasi produksinya, Selasa (7/4/2026).

Andi merinci, harga biji plastik jenis OPV yang biasa ia gunakan melonjak dua kali lipat, dari Rp35.000 per kilogram menjadi Rp70.000 per kilogram. Kondisi ini memaksa Andi mengurangi volume pembelian bahan baku secara signifikan.

Baca Juga:  80 Ribu Koperasi Merah Putih Bakal Diluncurkan di Klaten, Catat Tanggalnya

“Dulu sekali ambil bisa sampai 15 ton, sekarang paling hanya 7 ton. Kami kurangi (pembelian) karena khawatir harga tiba-tiba jatuh saat stok masih banyak,” imbuhnya.

Penurunan volume bahan baku ini berdampak domino pada operasional pabrik. Kapasitas produksi harian terpaksa dikurangi yang berujung pada pemangkasan jam kerja karyawan. Di sisi lain, harga jual produk di tingkat konsumen juga ikut terkerek naik sekitar 80 hingga 100 persen.

Plastik kemasan yang semula dijual seharga Rp5.000 per pak, kini harus dilepas dengan harga Rp10.000 per pak. Kenaikan harga yang mencekik ini membuat daya beli pelanggan merosot tajam.

Baca Juga:  KAI Hadirkan Promo Diskon 10% Tiket di Pilkada November 2024

“Pelanggan merasa plastik sekarang mahal sekali. Biasanya ada yang beli 10 pak, sekarang rata-rata hanya mampu beli 3 sampai 4 pak saja,” keluh Andi.

Ia berharap kondisi ekonomi global segera stabil dan konflik di Timur Tengah mereda agar aktivitas produksi serta serapan pasar kembali normal.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!