Buntut Keracunan Massal di Demak, Wagub Jateng Ancam Cabut Izin Dapur MBG
Laporan: Shodiq
DEMAK, HARIAN7.COM– Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan perhatian serius atas kasus dugaan keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa 187 warga di Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan akan memberikan sanksi tegas hingga pencabutan izin bagi penyedia layanan yang lalai dalam prosedur distribusi.
Taj Yasin menilai, indikasi keracunan tersebut kemungkinan besar dipicu oleh manajemen waktu distribusi yang tidak tepat. Sebagai Ketua Pokja Percepatan Pelaksanaan Program MBG Jateng, ia menekankan bahwa setiap menu memiliki batas waktu konsumsi yang ketat.
“Biasanya keracunan terjadi karena pengaturan jadwal yang kurang tepat. Makanan ini ada masa kedaluwarsanya, jadi harus diantarkan tepat waktu dan langsung dikonsumsi,” ujar Taj Yasin usai menghadiri acara di Kantor TVRI Jawa Tengah, Selasa (21/4/2026).
Ia juga meminta pihak sekolah dan pesantren proaktif mengedukasi siswa agar tidak menunda waktu makan. “Jangan sampai makanan disimpan dulu untuk dimakan nanti atau besoknya. Ini berisiko,” tegasnya.
Terkait insiden di Demak, pemerintah tidak segan menjatuhkan sanksi berjenjang. Taj Yasin mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada dapur penyedia MBG di Jawa Tengah yang ditutup karena dianggap lalai.
“Ini peringatan keras. Pemerintah pusat sudah memberi warning, sanksi bisa sampai pada pencabutan izin operasional dapur,” imbuhnya.
Berdasarkan data lapangan, total korban mencapai 187 orang yang terdiri dari santri, balita, hingga ibu menyusui. Gejala mual dan muntah mulai dirasakan warga pada Minggu (19/4/2026) pagi, setelah mengonsumsi menu MBG pada hari Sabtu sebelumnya.
Hingga Senin, tercatat 68 orang masih menjalani rawat inap dan 66 orang rawat jalan. Sebagai tindak lanjut, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lokasi kejadian telah dihentikan sementara dan dipasang garis polisi untuk kepentingan investigasi.
Dinas Kesehatan setempat kini tengah melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan guna memastikan penyebab pasti keracunan sekaligus mengevaluasi standar higiene sarana produksi pangan tersebut.(*)













Tinggalkan Balasan