AS Siapkan Operasi Darat di Iran, Konflik Timur Tengah Kian Meluas
INTER | HARIAN7.COM – Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat. Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) dilaporkan tengah mempersiapkan kemungkinan operasi darat selama beberapa pekan di Iran, seiring kedatangan ribuan tentara dan marinir AS ke kawasan tersebut.
Laporan The Washington Post menyebutkan, operasi darat yang dirancang tidak akan berupa invasi penuh. Aksi militer kemungkinan dilakukan melalui serangan terbatas yang melibatkan pasukan khusus dan infanteri konvensional.
Di saat bersamaan, United States Central Command (CENTCOM) mengonfirmasi kedatangan satuan tugas amfibi yang terdiri dari sekitar 3.500 marinir dan pelaut. Pasukan ini dipimpin kapal perang USS Tripoli, lengkap dengan dukungan pesawat tempur dan kemampuan serangan amfibi.
Namun, potensi operasi ini dinilai berisiko tinggi. Personel militer AS dapat menghadapi berbagai ancaman, mulai dari serangan drone dan rudal Iran hingga serangan darat dan bahan peledak rakitan.
Di sisi lain, eskalasi konflik juga merambah sektor sipil. Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan seluruh universitas AS dan Israel di Timur Tengah kini menjadi “target sah”. Pernyataan itu muncul setelah serangan udara menghantam Iran University of Science and Technology di Teheran.
Sementara itu, militer Israel terus meningkatkan tekanan. Juru bicara militer Israel, Effie Defrin, menyatakan pihaknya hampir menyelesaikan serangan terhadap seluruh komponen vital industri militer Iran.
“Ini berarti kami akan menghancurkan sebagian besar kemampuan produksi militer Iran, dan rezim Iran akan membutuhkan waktu lama untuk memulihkannya,” ujar Defrin.
Namun, di dalam negeri Israel sendiri muncul kritik. Pemimpin oposisi, Yair Lapid, memperingatkan bahwa perang melawan Iran dan Hizbullah telah menimbulkan beban besar bagi militer dan berpotensi menyeret negara itu ke dalam “bencana keamanan”.
Eskalasi juga meluas ke kawasan Teluk. Perusahaan aluminium Aluminium Bahrain (Alba) mengonfirmasi fasilitasnya menjadi sasaran serangan Iran. Dua orang dilaporkan mengalami luka ringan, sementara kerusakan masih dalam proses penilaian.
IRGC mengklaim serangan tersebut merupakan bagian dari operasi gabungan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan fasilitas industri yang terkait dengan kepentingan militer AS dan Israel di kawasan, termasuk di Uni Emirat Arab dan Bahrain.
Selain itu, IRGC juga mengklaim telah menembak jatuh pesawat tempur F-16 dan drone MQ-9 Reaper milik AS dalam operasi balasan di wilayah udara selatan Iran. Klaim ini muncul di tengah pernyataan CENTCOM yang menyebut pesawat F-16 mendarat kembali di pangkalan setelah menjalankan misi tempur.
Konflik di Timur Tengah terus memburuk sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu. Sejak itu, Iran bersama sekutunya merespons dengan serangan ke berbagai kepentingan AS dan Israel di kawasan, meningkatkan risiko konflik berkepanjangan dengan dampak global.(Sam)













Tinggalkan Balasan