Benteng Willem I: Batu Tua, Kamera Baru, dan Ribuan Langkah di Ujung Liburan
Laporan: Fera Marita
KAB.SEMARANG | HARIAN7.COM – Menjelang senja di penghujung libur Natal dan Tahun Baru, Benteng Willem I di Ambarawa tak kunjung lengang. Di balik tembok tebal berusia hampir dua abad, ribuan pasang kaki hilir mudik. Ada yang berhenti lama di sudut lorong, ada pula yang sibuk mencari cahaya terbaik demi satu bidikan foto.
Benteng yang berdiri di Kelurahan Lodoyong, Kabupaten Semarang itu seolah menemukan kembali denyut hidupnya. Libur Nataru yang berimpitan dengan libur sekolah menjadikannya salah satu destinasi wisata sejarah paling ramai dikunjungi di Jawa Tengah akhir tahun ini.
Arsitektur kolonial dengan garis-garis tegas dan ruang-ruang luas menjadi daya pikat utama. Bangunan tua itu kini bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga latar favorit para pemburu konten, dari fotografer amatir hingga kreator profesional. Benteng Willem I menjelma panggung visual, tempat masa lalu dan tren digital saling bersua.
Revitalisasi yang rampung pada November 2025 seperti memberi napas baru. Sejak itu, arus wisatawan tak pernah putus. Mereka datang dari berbagai penjuru: Pati, Kudus, Semarang, Yogyakarta, bahkan Jakarta. Benteng ini tak sekadar dikunjungi, tapi dialami.
“Di akhir libur panjang ini sudah ada 5.000an pengunjung yang datang ke Fort Willem. Di tanggal 20-24 Desember rata-rata ada 4.000 pengunjung setiap harinya. Sedang ditanggal 26 Desember sampai 3 Januari 2026, ada 5.000an pengunjung setiap harinya. Kalau ditotal selama Desember 2025 saja sudah ada 109 ribu pengunjung,” papar Sapto Nugroho, Manager Lawu Grup untuk Benteng Willem 1.
Bagi Sapto, magnet utama benteng ini memang terletak pada wujud fisiknya yang masih menyimpan kuat gaya kolonial. Namun ada lapisan lain yang membuat Willem I lebih dari sekadar bangunan tua: jejak spiritual.
Di dalam kawasan benteng, terdapat makam Simbah Kyai Haji Mahmud Salam, tokoh Islam terkemuka pada era kolonial 1840-an. Di sinilah wisata sejarah bersisian dengan ziarah religi.
“Banyak juga peziarah yang kesini buat ziarah ke Makam Simbah Kyai Haji Mahmud Salam. Seperti rombongan peziarah dari Pati yang selalu datang kesini setiap Jumat Kliwon,” imbuh Sapto.
Benteng Willem I dibangun pada rentang 1834 hingga 1843, di atas lahan seluas tiga hektare. Ia lahir dari kegelisahan politik Eropa dan luka panjang Perang Diponegoro yang menguras kas kolonial. Pada 31 Agustus 1837, benteng ini resmi dinamai Willem I, penghormatan Pangeran Frederik Hendrik kepada sang kakek, Raja Willem I, saat kunjungannya ke Hindia Belanda.
Sejarah benteng ini berlapis-lapis: tangsi militer, pusat logistik, penjara politik, kamp interniran, markas Tentara Keamanan Rakyat, hingga lembaga pemasyarakatan. Gempa besar tahun 1865 dan 1872 bahkan sempat merobek sebagian tubuhnya, meninggalkan luka yang tak seluruhnya pulih.
Kini, sekitar 40 persen Benteng Willem I telah direvitalisasi dan dibuka untuk publik. Penetapannya sebagai bagian dari segitiga emas Borobudur menempatkannya dalam peta penting pariwisata nasional.
Benteng ini tak lagi sekadar monumen sunyi. Ia hidup, diisi kamera, doa, langkah wisatawan, dan cerita yang terus bertambah, setiap kali libur panjang tiba.












Tinggalkan Balasan