HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Bencana Hidrometeorologi Terjang Kudus, 14.143 Warga Terdampak

Laporan: Tambah Santoso

KUDUS |  HARIAN7.COM – Hujan deras berintensitas tinggi yang mengguyur kawasan Pegunungan Muria sejak Jumat (9/1/2026) hingga Sabtu (10/1/2026) memicu rangkaian bencana hidrometeorologi basah di Kabupaten Kudus. Banjir, limpasan sungai, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem melanda sejumlah kecamatan dan berdampak luas pada ribuan warga.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus mencatat sebanyak 4.668 kepala keluarga atau 14.143 jiwa terdampak. Bencana dipicu meluapnya Sungai Gelis, Sungai Piji, dan Sungai Dawe yang tak mampu menampung debit air kiriman dari wilayah hulu.

Kasi Kedaruratan BPBD Kudus Ahmad Munaji menyebut curah hujan tinggi membuat kondisi tanah menjadi labil. “Hujan deras di wilayah Muria menyebabkan debit sungai meningkat signifikan dan meluap ke permukiman warga,” ujarnya.

Banjir dan limpasan sungai tercatat terjadi di empat kecamatan, yakni Mejobo, Kota, Jekulo, dan Bae, dengan ketinggian air berkisar antara 5 hingga 60 sentimeter. Kecamatan Mejobo menjadi wilayah terdampak terluas, meliputi tujuh desa: Kesambi, Jojo, Mejobo, Golantepus, Temulus, Tenggeles, dan Hadiwarno.

Baca Juga:  Koperasi Merah Putih Margorejo Resmi Meluncur, Bupati Kudus Targetkan Kebangkitan Ekonomi Desa

Di Desa Mejobo, banjir berdampak pada 600 kepala keluarga atau 1.741 jiwa. Sebanyak 425 rumah terdampak, dengan air masuk ke rumah warga di 30 kepala keluarga. Ketinggian air mencapai 5 hingga 40 sentimeter dan merendam sekitar 25 hektare lahan persawahan. Desa Jojo mencatat 325 kepala keluarga atau 1.040 jiwa terdampak, disusul Desa Golantepus dengan 225 kepala keluarga atau 701 jiwa terdampak, dengan genangan hingga 40 sentimeter masuk ke rumah warga.

Genangan juga meluas ke Desa Kesambi, Temulus, Tenggeles, dan Hadiwarno, termasuk merendam puluhan hektare lahan pertanian. Di Kecamatan Kota, limpasan Sungai Gelis menggenangi Desa Singocandi dan sempat memaksa sebagian warga mengungsi sebelum air berangsur surut.

Baca Juga:  Latihan Paskibraka Kab Semarang Terapkan Protokol Kesehatan, Meski Ditengah Covid-19 Anggota Tetap Semangat

Sementara itu di Kecamatan Jekulo, banjir melanda Desa Hadipolo dengan dampak pada 600 kepala keluarga atau 1.870 jiwa, dengan ketinggian air mencapai 60 sentimeter. Di Kecamatan Bae, banjir menggenangi Desa Ngembalrejo dan berdampak pada 650 kepala keluarga atau 1.961 jiwa, dengan ratusan rumah terendam.

Selain banjir, BPBD Kudus mencatat puluhan titik tanah longsor di Kecamatan Dawe, Gebog, dan Bae. Kecamatan Dawe menjadi wilayah terparah, dengan longsor tersebar di Desa Japan, Kuwukan, Ternadi, Kajar, dan Colo. Longsor di Desa Kuwukan dan Ternadi berdampak langsung pada rumah warga.

Peristiwa paling menonjol terjadi di Desa Colo, Kecamatan Dawe, di jalur menuju objek wisata religi Makam Sunan Muria. Longsor menyebabkan jembatan portal dan badan jalan ambrol sepanjang sekitar 50 meter dengan kedalaman mencapai 20 meter. Dua mobil terseret ke sungai, namun tiga orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Proses evakuasi kendaraan telah selesai dilakukan.

Baca Juga:  Pernikahan Intim Bernuansa Natural di Laras Asri Resort & Spa Salatiga

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menegaskan pemerintah daerah bergerak cepat dengan mengerahkan seluruh perangkat daerah dan berkoordinasi lintas instansi. “Kami tidak ingin penanganan lambat. Seluruh OPD saya minta turun ke lapangan, berkoordinasi, dan memastikan kebutuhan warga terdampak terpenuhi,” tegasnya.

Pemerintah Kabupaten Kudus mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di bantaran sungai dan wilayah lereng Pegunungan Muria, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan. Status siaga darurat bencana di Kabupaten Kudus masih diberlakukan hingga 31 Mei 2026.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Content is protected !!