HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Cancel Culture sebagai Kontrol Sosial Baru: Studi Kasus Kasus Awkarin dan Perspektif Sosiologi

Penulis: Kheren Dian Rhenata (352024006) Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi, Progdi Sosiologi

OPINI | HARIAN7.COM – Fenomena cancel culture adalah fenomena yang sering kali terjadi di sosial media terutama pada era digital saat ini. Individu atau kelompok dapat menjadi sasaran boikot oleh publik karena dianggap melanggar norma sosial, norma ataupun etika. Di Indonesia, kasus cancel culture sempat terjadi pada salah satu publik figure Awkarin dan menjadi kontroversi akibat kontennya yang dianggap tidak sesuai dengan nilai budaya Indonesia. Artikel ini akan membahas fenomena cancel culture yang terjadi di Indonesia dengan studi kasus publik figur Awkarin dari perspektif teori Kontrol Sosial dan Pelabelan Dalam Sosiologi.

Studi Kasus: Cancel Culture terhadap Awkarin

Awkarin (Karin Novilda), adalah seorang influencer asal Indonesia, sempat menjadi perbincangan hangat di sosial media karena konten vulgar dan gaya hidup yang hedon yang ia sering unggah pada tahun 2016-2017. Publik melakukan boikot dan seruan untuk berhenti mengikutinya (unfollow). Ia bahkan sempat kehilangan beberapa kerjasama bisnis karena tekanan dari publik. Meskipun demikian, Awkarin kemudian berhasil mengembalikan citra dirinya dengan membangun citra sebagai aktivis sosial melalui gerakan kemanusiaan.

Baca Juga:  Polres Semarang Gelar Sertijab Sejumlah Pejabat Utama, Kapolres: "Berikan Kinerja Terbaik dengan Tagline Kami Polisi Baik"

Teori Sosiologi

1. Kontrol Sosial (Social Control)

Menurut Edward A. Ross, Kontrol Sosial adalah mekanisme untuk menjaga keteraturan sosial dan mencegah penyimpangan (Ross, 1901). Cancel Culture adalah salah satu bentuk kontrol sosial informal yang dilakukan oleh masyarakat, dimana masyarakat digital memberikan sanksi sosial seperti boikot terhadap individu yang dianggap menyimpang dari norma dan mempengaruhi banyak individu lain sehingga membetuk kelompok untuk melakukan pengucilan terhadap seseorang.

Baca Juga:  Merevitalisasi Pasar Tradisional di Salatiga menuju Pasar Sehat

Dalam konteks Awkarin, reaksi publik mencerminkan tekanan untuk menjaga norma budaya dan agama yang berlaku.

2. Teori Labelling (Howard Becker)

Becker berpendapat bahwa penyimpangan bukan hanya tentang tindakan, tetapi bagaimana masyarakat memberi label terhadap suatu tindakan (Becker, 1963). Cancel culture bekerja dengan memberikan label negatif seperti “tidak bermoral”, “berpengaruh buruk”, atau “toxic” yang dapat mengubah identitas sosial seseorang.

Dalam kasus Awkarin, label yang dilekatkan kepada Awkarin yang mengakibatkan pengucilan sosial sementara, namun juga memicu perubahan strategi identitas dirinya.

Analisis Sosiologis

Cancel Culture menunjukkan perubahan kekuasaan di masyarakat digital. Dulu, hanya lembaga formal yang bisa memberi sanksi, tapi sekarang pengguna media sosial juga punya kekuatan untuk memberi “hukuman sosial”. Namun, hal ini berisiko karena:

Baca Juga:  Mahasiswa Sumba di Jawa Menggelar Diskusi, Bertajuk, “Kondisi Mahasiswa Sumba Di Jawa Pada Masa Pandemi Covid-19”

1. Tidak ada ruang untuk pemulihan nama baik

2. Sering terjadi penghakiman massa

3. Kurangnya pengecekan fakta

Meski awalnya Awkarin terkena cancel culture, ia berhasil membangun kembali citranya dengan memakai pengaruhnya untuk hal-hal positif, hingga akhirnya diterima kembali oleh masyarakat.

Kesimpulan

Cancel culture mencerminkan perubahan norma dan nilai di masyarakat digital. Lewat kontrol sosial dan pelabelan, publik menetapkan batas sosial yang tidak tertulis tapi berpengaruh. Kasus Awkarin menunjukkan bahwa identitas sosial bisa berubah jika ada kesempatan untuk refleksi dan perbaikan.

Daftar Pustaka

Becker, H. S. (1963). Outsiders: Studies in the Sociology of Deviance. New York: Free Press.

Ross, E. A. (1901). Social Control: A Survey of the Foundations of Order. New York: Macmillan.

https://m.kumparan.com/amp/millennial/5-kisah-kontroversial-awkarin-1piZVwdWFC0

https://alif.id/read/muhammad-asad/awkarin-dari-artis-medsos-ke-aktivisme-sosial-b223820p/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Content is protected !!