Pemerhati keris, Dekan Bawono sedang membersihkan kerisnya agar tidak korosi.

Laporan: Bang Nur

SALATIGA,harian7.com – Ritual jamasan biasa dilakukan oleh para pemilik pusaka di bulan Suro dalam penanggalan Jawa, tepatnya pada malam satu Suro. Pada jaman dahulu, hampir setiap orang punya pusaka pribadi. Kepemilikannya jadi bentuk kesiap-siagaan dalam menjalani hidup.

Jamas dalam bahasa Jawa memiliki arti cuci atau membersihkan. Ritual jamasan merupakan kegiatan mencuci pusaka. Pusaka yang dicuci berupa keris, tombak, gong, kereta pusaka, dan lain-lain.

Namun saat ini tradisi itu seakan dilupakan dan sudah mulai pudar digerus oleh perkembangan jaman. Padahal tujuan dari menjamas itu agar benda budaya tersebut tidak hancur ( rusak) oleh korosi sehingga tetap bisa diwariskan ke anak cucu.

Dekan Bawono (44) warga Perumahan Domas Kecamatan Salatiga, seorang pemerhati keris mengaku, meski saat ini zaman sudah moderen ia masih nguri-nguri peninggalan leluhur itu dan setiap bulan Suro masih melakukan jamasan keris. 

“ Menjamas keris merupakan tradisi budaya. Namun saat ini sudah jarang ditemui,“ ujar pria asal Solo belum lama ini.

Alumnus UNS jurusan sejarah ini mengatakan, sebenarnya tidak hanya di bulan Suro saja keris itu dibersihkan, bilamana sudah kotor dan muncul karat, bisa sewaktu-waktu dibersihkan. Namun karena sudah menjadi tradisi setiap bulan Suro maka hal itu sah-sah saja.

”Tujuan membersihkan itu supaya tidak karat dan korosi. Karena jika karat dan korosi, maka keris itu lama-lama akan keropos. Bila rusak maka unsur seni dan keindahannya otomatis akan hilang,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, untuk membersihkan keris, tergantung tingkat korosinya ( karatan). Bila hanya kotor dan korosi sedikit, maka cukup dibersihkan dengan kain lap, kuas dengan dicampur minyak.

” Namun bila korosinya parah, bisa direndam dulu ke dalam air kelapa. Kemudian setelah karatnya rontok, dibilas dengan jerus nipis, kemudian dicuci dengan air dan diminyaki,” jelasnya.

Terkait jenis minya yang dipakai untuk membersihkan keris, menurut Dekan,  dirinya membuat sendiri dengan membuat minyak klentik. Justru minyak alami itu sangat bagus karena awet dan tidak merusak bilah.

 “Jadi jangan salah persepsi, memberi minyak itu bukan berarti memberi sesaji. Itu persepsi yang salah. Makna yang terkandung jelas supaya selalu bersih, sehingga awet. Bila awet, seni dan keindahanya terjaga dan bisa diwariskan ke anak cucu sehingga tidak punah,” imbuhnya.

Bagiamana dengan cerita keris sakti dan sebagainya itu ? menurut Dekan, memang bagi yang percaya keris ada yang memiliki tuah atau yoni tertentu. Namun demikian, intinya semua kekuatan itu berasal dari Tuhan YME.

 “ Memang untuk membuat sebilah keris, seorang empu bisa membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan. Tentunya saat pembuatan itu dibarengi dengan doa kepada yang maha kuasa dan laku prihatin,” ujarnya.

Yang jelas menurut  Dekan, rakyat Indonesia harus bangga memiliki warisan keris. Karena selain wayang dan batik, senjata asli Nusantara ini sudah diakui secara resmi oleh Unesco, lembaga PBB yang menaungi budaya. Dimana keris masuk dalam benda budaya warisan dunia. 

“ Wayang, keris dan batik sudah diakui oleh Unesco ( PBB) sebagai warisan budaya dunia, maka harus kita pelihara” tandasnya.

Menurut  Dekan,  hal itu tidak berlebihan karena di dalam sebilah keris, banyak nilai-nilai yang bisa dipetik. Karena keris tidak hanya sekedar senjata tajam saja, seperti samurai di Jepang. Di dalam keris ada nilai filosofis, budaya, religi dan sebagainya.

“ Tehnik  empu (pembuat keris) meski sederhana namun sudah luar biasa, karena sudah bisa meleburkan baja, besi, dan titanium yang memiliki titik lebur yang berbeda-beda ke dalam sebilah keris. Inilah kelebihannya yang tidak dimiliki oleh bangsa lain,” jelas Dekan yang mengaku sejak remaja sudah sering membersihkan keris peninggalan kakeknya di Solo.

Setiap bilah keris, baik itu yang lurus atau yang lekuk memiliki nama ( dhapur) yang berbeda. Setiap nama itu mengandung arti dan makna yang berbeda pula. Demikian pula pamor (gambar) yang ada pada bilah keris, juga memiliki nama yang berbeda pula sesuai dengan gambar atau bentuknya. 

“ Keris tidak hanya sekedar senjata saja, melainkan ada nilai seni, budaya dan filosofinya,” ujarnya. 

Dan yang terpenting saat ini, bagaimana generasi mudah sekarang ini bisa lebih mengenal keris sebagai benda seni budaya warisan nenek moyang.(*)