Laporan: Muhamad Nuraeni
KAB.SEMARANG,HARIAN7.COM – Menjadi kepala desa bukan sekadar soal menduduki jabatan. Lebih dari itu, seorang pemimpin desa dituntut memahami kehidupan masyarakat, mengenali potensi wilayah, serta mampu merangkul warganya untuk bergerak menuju kesejahteraan bersama.
Di Desa Barukan, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, nama Pupung Kurniawan Cahyono mulai mendapat perhatian menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (Pilkades). Sosok yang dikenal sebagai pengusaha tersebut dinilai memiliki kedekatan dengan masyarakat dan pengalaman sosial yang menjadi modal untuk maju dalam kontestasi kepemimpinan desa.
Dukungan terhadap Pupung datang dari sejumlah warga. Namun, di balik dukungan tersebut, terdapat harapan yang lebih besar: bagaimana desa dapat berkembang tanpa kehilangan identitas sosial dan budaya yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya.
Bagi sebagian warga, pemimpin yang baik bukan hanya mereka yang memiliki kemampuan secara ekonomi atau pendidikan, melainkan juga orang yang bersedia hadir, mendengarkan, dan ikut merasakan persoalan masyarakat.
Praktisi Hukum Menilai Pupung Memiliki Potensi Kepemimpinan
Muhamad Sofian, praktisi hukum yang mengaku merupakan putra asli Desa Barukan, menilai Pupung memiliki potensi kepemimpinan sejak usia muda.
Penilaian tersebut didasarkan pada pengalamannya mengenal Pupung sejak kecil serta pengamatannya terhadap perkembangan kehidupan sosial di desa kelahirannya.
“Saya mengenal baik Saudara Pupung Kurniawan. Sejak kecil, saya sering bergaul dan berinteraksi dengan beliau. Sepanjang yang saya ketahui, beliau sudah memiliki potensi dan bakat untuk menjadi pemimpin sejak usia muda,” kata Sofian, Rabu (21/10/2026).
Menurut dia, kepemimpinan di tingkat desa tidak cukup hanya dilihat dari kemampuan administratif. Seorang calon kepala desa juga perlu memahami karakter masyarakat, nilai-nilai lokal, serta potensi yang dapat dikembangkan untuk kepentingan bersama.
Sofian menilai, latar belakang pendidikan, pengalaman, dukungan keluarga, dan rekam jejak sosial menjadi sejumlah faktor yang patut dipertimbangkan dalam melihat kapasitas seorang calon pemimpin.
“Mas Pupung memiliki potensi, pendidikan, dan pengalaman yang cukup. Dengan latar belakang keluarga serta rekam jejak yang saya ketahui, saya memandang beliau sebagai salah satu sosok yang memiliki kapasitas untuk memimpin Desa Barukan,” ujarnya.
Meski demikian, penilaian tersebut merupakan pandangan pribadi Sofian berdasarkan pengenalannya terhadap Pupung dan informasi yang ia peroleh dari masyarakat.
Dalam pemilihan kepala desa, keputusan akhir tetap berada di tangan warga yang memiliki hak pilih.
Desa Barukan Punya Potensi yang Perlu Dikembangkan
Salah satu persoalan penting dalam kepemimpinan desa adalah kemampuan menggali potensi wilayah. Bagi Sofian, Desa Barukan memiliki sejumlah peluang yang dapat dikembangkan, mulai dari sektor pertanian, agropertanian, kebudayaan, hingga kesenian.
Perkembangan kawasan di sekitar desa, termasuk potensi pertumbuhan industri, juga dinilai dapat menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pemerintahan desa ke depan.
Menurut dia, perkembangan tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan manajerial yang baik agar masyarakat setempat tidak sekadar menjadi penonton di tengah perubahan wilayahnya sendiri.
“Saya berharap, jika kelak Mas Pupung dipercaya menjadi kepala desa, Barukan bisa semakin maju dan masyarakatnya semakin sejahtera. Potensi yang ada harus digali dan dikelola dengan baik,” katanya.
Sofian menilai, kemampuan mengelola berbagai potensi tersebut membutuhkan pemimpin yang mampu menyusun prioritas, membangun komunikasi dengan masyarakat, serta mendorong keterlibatan warga dalam pembangunan.
Dengan pendekatan itu, kemajuan desa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari meningkatnya kesempatan ekonomi, berkembangnya usaha masyarakat, dan terpeliharanya kehidupan sosial.
Bukan Semata Urusan Ekonomi, tetapi Pengabdian
Pupung dikenal sebagai pengusaha. Latar belakang tersebut memunculkan pertanyaan mengenai alasan dirinya tertarik mengikuti kontestasi Pilkades, mengingat aktivitas usaha juga membutuhkan waktu dan perhatian.
Menanggapi hal itu, Sofian mengaku pernah mendengar langsung penjelasan Pupung mengenai keinginannya maju sebagai calon kepala desa.
Menurut Sofian, Pupung menyampaikan niat untuk mengabdikan diri kepada masyarakat.
“Beliau pernah menyampaikan kepada saya bahwa keinginannya maju sebagai kepala desa lebih diprioritaskan untuk kepentingan pengabdian kepada masyarakat,” ujar Sofian.
Bagi Sofian, niat pengabdian merupakan modal awal yang penting. Namun, niat tersebut perlu dibuktikan melalui kerja nyata apabila seseorang nantinya memperoleh kepercayaan masyarakat.
Sebab, menjadi kepala desa berarti bersedia menghadapi beragam persoalan warga, mulai dari pelayanan administrasi, pembangunan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi, hingga menjaga keharmonisan sosial.
Pengalaman sebagai pengusaha dapat menjadi salah satu bekal dalam mengelola organisasi dan mengambil keputusan. Meski demikian, kemampuan tersebut tetap perlu disertai pemahaman terhadap tata kelola pemerintahan desa dan kebutuhan masyarakat.
Warga Menilai Kedekatan Sosial sebagai Modal
Pandangan mengenai Pupung juga disampaikan Yudha, warga Desa Barukan yang tinggal di wilayah RT 7.
Yudha menilai, salah satu hal yang membuat Pupung mendapat dukungan darinya adalah keterlibatan dalam kehidupan sosial masyarakat di lingkungan desa.
“Sebagai warga Barukan, khususnya RT 7, saya melihat Mas Pupung aktif di desa dan lingkungan kampung. Sosok seperti beliau bisa mengayomi warga,” kata Yudha.
Menurut Yudha, kedekatan dengan masyarakat menjadi salah satu pertimbangan penting dalam memilih pemimpin. Warga membutuhkan sosok yang tidak hanya muncul ketika menjelang pemilihan, tetapi juga bersedia berinteraksi dan terlibat dalam kehidupan sehari-hari.
Meski dukungan merupakan hak setiap warga, Yudha menilai bahwa pemimpin yang mampu membangun kedekatan sosial memiliki peluang untuk memahami persoalan masyarakat secara lebih langsung.
Pandangan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa penilaian terhadap calon kepala desa tidak selalu bertumpu pada program tertulis. Pengalaman berinteraksi, kepedulian, dan hubungan sosial di lingkungan masyarakat juga menjadi bagian dari pertimbangan warga.
UMKM Menjadi Pekerjaan Rumah Desa
Selain persoalan kepemimpinan, Yudha menyoroti potensi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Barukan yang menurutnya masih dapat dikembangkan.
Ia menyebut usaha makanan ringan atau camilan sebagai salah satu bidang yang berpeluang memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat.
“Menurut saya, potensi Barukan yang perlu digali itu banyak. Salah satunya UMKM. Di sana ada banyak usaha makanan ringan yang bisa dikembangkan,” ujarnya.
Potensi tersebut membutuhkan perhatian melalui pembinaan usaha, peningkatan kualitas produk, pengemasan yang menarik, serta pemasaran yang lebih luas.
Pemerintah desa juga dapat berperan dalam mempertemukan pelaku UMKM dengan berbagai peluang promosi, pelatihan, dan akses pasar sesuai kewenangan serta program yang tersedia.
Jika dikelola secara berkelanjutan, usaha kecil berpotensi menjadi sumber pendapatan keluarga sekaligus membuka kesempatan kerja bagi warga sekitar.
Bagi Yudha, kemampuan melihat dan mengembangkan potensi lokal merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam menilai calon pemimpin desa.
Ia pun menyatakan dukungannya kepada Pupung karena menilai sosok tersebut memiliki kedekatan dengan warga dan berpeluang menjalankan peran kepemimpinan di desa.
Harapan Besar, Pembuktian Tetap Menjadi Kunci
Pilkades bukan sekadar kompetisi untuk memperoleh suara. Kontestasi tersebut juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk menentukan arah pembangunan dan memilih sosok yang dinilai mampu menjawab kebutuhan desa.
Dukungan yang disampaikan Sofian dan Yudha memperlihatkan adanya harapan terhadap Pupung Kurniawan Cahyono. Keduanya menyoroti aspek yang berbeda, tetapi saling berkaitan: potensi kepemimpinan, kedekatan sosial, dan peluang pengembangan ekonomi lokal.
Meski begitu, dukungan sejumlah warga tidak serta-merta dapat dianggap mewakili seluruh masyarakat Desa Barukan. Penilaian terhadap calon pemimpin juga perlu mempertimbangkan program kerja, integritas, kemampuan mengelola pemerintahan, serta komitmen terhadap kepentingan publik.
Pada akhirnya, tantangan seorang kepala desa bukan hanya memenangkan pemilihan, melainkan membuktikan bahwa kepercayaan masyarakat dapat diwujudkan menjadi pelayanan yang baik dan pembangunan yang dirasakan bersama.
Bagi Desa Barukan, harapan terhadap pemimpin baru semestinya bermuara pada tujuan yang sama: desa yang semakin maju, perekonomian warga yang berkembang, potensi lokal yang terkelola, serta kehidupan masyarakat yang tetap rukun.
Pupung memiliki kesempatan untuk menjawab harapan tersebut apabila nantinya memperoleh mandat dari masyarakat. Namun, keputusan mengenai siapa yang paling layak memimpin Desa Barukan tetap menjadi hak warga melalui proses pemilihan yang demokratis.









Tinggalkan Balasan