Laporan: Ratmaningsih
TEMANGGUNG | HARIAN7.COM – Di bawah rimbun bambu Pasar Papringan yang diterangi lampu-lampu temaram, suara gamelan perlahan mengalun mengiringi gerak tangan seorang dalang muda. Usianya baru 13 tahun, tetapi malam itu Anom Sasangka tampil percaya diri membawakan Wayang Kedu, kesenian khas Temanggung yang kini semakin jarang dipentaskan.
Penampilan Anom dalam gelaran Malam Papringan menjadi pemandangan yang tidak biasa. Di saat banyak anak seusianya akrab dengan gawai dan media sosial, ia justru memilih menekuni seni pedalangan yang diwariskan turun-temurun oleh keluarganya.
Malam Papringan merupakan program kolaborasi mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) bersama Spedagi Movement yang menghadirkan ruang perjumpaan antara masyarakat dan budaya lokal. Dalam edisi kali ini, Wayang Kedu dipilih sebagai salah satu warisan budaya yang diperkenalkan kembali kepada publik.
Kurator Malam Papringan, Axel Leopulisa, mengatakan Wayang Kedu memiliki posisi penting dalam sejarah dan identitas budaya masyarakat Temanggung.
“Wayang Kedu memiliki nilai sejarah dan identitas budaya yang kuat,” ujarnya.
Meski masih belia, Anom bukan sosok baru dalam dunia pedalangan. Putra daerah Temanggung itu telah mengikuti berbagai kompetisi dan tampil dalam sejumlah pementasan hingga tingkat nasional.
Pada pertunjukan tersebut, Anom membawakan lakon Dewi Sri melalui format pakeliran padat. Durasi pertunjukan memang dibuat lebih ringkas agar mudah dinikmati penonton, namun tetap mempertahankan unsur-unsur khas Wayang Kedu.
Kehadiran Anom menjadi simbol penting regenerasi pelaku budaya. Di tengah kekhawatiran akan berkurangnya minat generasi muda terhadap seni tradisi, ia menunjukkan bahwa warisan budaya masih dapat diteruskan dan relevan dengan perkembangan zaman.
Bakat pedalangan Anom tumbuh dari lingkungan keluarga. Ia merupakan cucu almarhum Ki Legowo Cipto Karsono, maestro dalang Temanggung yang dikenal berjasa dalam pelestarian Wayang Kedu.
Bersama Ki Gunawan Purwoko, S.Sn., Ki Legowo pernah melakukan penelitian dan pendokumentasian bentuk pakeliran serta iringan musik orisinal Wayang Kedu khas Temanggung. Upaya tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga keaslian kesenian yang berkembang di kawasan Kedu itu.
Kini, estafet pelestarian budaya tersebut diteruskan oleh Anom melalui panggung-panggung pertunjukan yang ia jalani.
Wayang Kedu sendiri merupakan kesenian wayang yang berkembang di wilayah Kedu, meliputi Temanggung, Wonosobo, dan daerah sekitarnya. Kesenian ini memiliki karakteristik tersendiri, baik dari sisi pakeliran, tokoh wayang, bahasa pertunjukan, maupun iringan musiknya.
Namun, minimnya ruang pertunjukan dan tantangan regenerasi membuat Wayang Kedu semakin jarang tampil di hadapan publik. Kondisi inilah yang membuat banyak masyarakat belum mengenal kesenian tersebut.
Salah satunya dirasakan oleh Raga Yuhan, pengunjung Malam Papringan. Ia mengaku baru pertama kali menyaksikan pertunjukan Wayang Kedu secara langsung.
“Wayang Kedu jujur hidden gem. Di Temanggung jarang banget ada pagelaran Wayang Kedu. Padahal itu wayang asli Temanggung, dan aku akhirnya bisa pertama kali menonton di Pasar Papringan,” katanya.
Supervisor Spedagi Movement, Ika Permata Hati, menilai pengenalan kembali Wayang Kedu merupakan langkah positif untuk menjaga keberlanjutan budaya lokal.
“Wayang Kedu sudah menjadi Warisan Budaya Takbenda milik Temanggung. Melestarikan budaya, apalagi dengan menghadirkan dalang cilik, merupakan langkah yang sangat baik,” ujarnya.
Melalui Malam Papringan, mahasiswa UMN bersama Spedagi Movement berharap dapat membuka ruang dialog antara masyarakat, generasi muda, dan pelaku budaya. Di tengah derasnya arus modernisasi, sosok Anom Sasangka menjadi pengingat bahwa tradisi tidak selalu harus ditinggalkan. Dengan ruang yang tepat, budaya dapat terus hidup dan menemukan penerusnya.









Tinggalkan Balasan