Laporan: Muhamad Nuraeni

BOYOLALI | HARIAN7.COM – Di saat ratusan jemaah haji bergegas naik kendaraan untuk kembali ke rumah masing-masing, Mustofa Ismail (67) justru melangkah ke arah berbeda. Dengan caping di kepala, tas sederhana di pundak, dan lantunan zikir di bibir, petani asal Desa Kedungringin, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang itu memilih berjalan kaki sejauh sekitar 40 kilometer dari Asrama Haji Donohudan menuju rumahnya.

Keputusan yang terbilang tidak biasa itu bukan tanpa alasan. Mustofa sedang menunaikan nazar yang telah lama diucapkannya sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Kamis (11/6/2026), suasana penjemputan jemaah Kloter 23 Embarkasi Solo di Asrama Haji Donohudan berlangsung seperti biasa. Namun sosok Mustofa menarik perhatian banyak orang. Setelah proses serah terima jemaah selesai, ia tidak menuju bus atau kendaraan penjemput, melainkan bersiap memulai perjalanan panjang dengan berjalan kaki.

Didampingi adik dan sejumlah anggota keluarga, Mustofa melangkah meninggalkan kompleks asrama haji. Di bawah terik matahari, ia membawa barang bawaan secukupnya dan mengenakan caping bertuliskan lafaz Allah serta ayat Al-Qur’an.

Meski sempat mendapat saran dari petugas agar pulang menggunakan kendaraan bersama rombongan, Mustofa tetap teguh pada niatnya. Baginya, perjalanan itu merupakan bentuk syukur atas kesehatan dan kelancaran yang diberikan Allah selama menjalankan ibadah haji.

“Saya masih diberi kesehatan untuk ibadah dengan berjalan kaki sampai rumah. Biar sehat juga, sambil banyak berzikir, baca selawat dan tasbih,” ujar Mustofa.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani tersebut mengaku telah menanamkan niat itu sejak lama. Setiap langkah yang ditempuhnya diniatkan sebagai bagian dari ibadah, diisi dengan zikir dan selawat sepanjang perjalanan.

Jarak dari Donohudan menuju Kecamatan Suruh diperkirakan mencapai sekitar 40 kilometer. Perjalanan itu tentu tidak ringan bagi pria berusia 67 tahun yang baru saja menyelesaikan rangkaian ibadah haji dan perjalanan panjang dari Arab Saudi.

Namun Mustofa menjalaninya dengan tenang. Sesekali ia beristirahat bersama adiknya untuk minum, meregangkan otot, dan memulihkan tenaga sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Dukungan penuh datang dari keluarga. Putranya, Ahmad Muntaha, mengatakan keluarga memilih mengawal perjalanan tersebut demi memastikan kondisi sang ayah tetap aman hingga tiba di rumah.

“Yang penting kemauan orang tua dituruti. Mau jalan kaki ya kami kawal sebagai anak. Yang penting orang tua senang,” kata Ahmad.

Menurut Ahmad, kebiasaan berjalan kaki bukan hal baru bagi ayahnya. Sebelum berangkat ke Tanah Suci, Mustofa juga pernah berjalan kaki dari rumah menuju Kantor Kecamatan Suruh saat pelepasan jemaah haji.

Sementara itu, Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Solo, Fitriyanto, mengungkapkan pihaknya sebenarnya telah memberikan saran agar nazar tersebut ditunaikan setelah Mustofa tiba di Kabupaten Semarang.

Pertimbangan itu didasarkan pada kondisi jemaah yang baru menyelesaikan perjalanan jauh dari Arab Saudi. Namun karena Mustofa tetap berpegang pada nazarnya, petugas tidak dapat melarang keputusan tersebut.

“Kami sarankan nanti sampai kecamatan saja untuk jalan kaki sampai rumah. Tapi karena beliau sudah bernazar dan tetap bersikukuh, tentu kami tidak bisa menghalangi,” ujar Fitriyanto.

Bagi banyak orang, langkah-langkah Mustofa di bawah terik matahari itu mungkin sekadar perjalanan pulang. Namun bagi dirinya, setiap kilometer yang ditempuh menjadi simbol keteguhan menepati janji, rasa syukur atas kesehatan yang masih dimiliki, dan keyakinan bahwa ibadah tidak berhenti saat meninggalkan Tanah Suci.

Di usia senja, Mustofa menunjukkan bahwa kekuatan tekad terkadang mampu melampaui batas jarak. Sebab perjalanan paling panjang bukan selalu tentang tujuan yang ingin dicapai, melainkan tentang kesetiaan menjaga niat yang telah diikrarkan.