Penulis: Mohammad Rosyidi
Khadimul Majelis Taklim Aswaja NU
Markas: Desa Brubuh, Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi.

OPINI

Pendahuluan

Ibadah haji merupakan puncak perjalanan spiritual seorang muslim. Setelah menunaikan rangkaian ibadah di Tanah Suci, jamaah haji kembali ke tanah air dengan harapan memperoleh predikat haji mabrur, yaitu haji yang diterima oleh Allah SWT dan membawa perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di lingkungan masyarakat Nahdlatul Ulama, terdapat tradisi yang telah lama hidup dan berkembang, yaitu berkunjung kepada orang yang baru pulang menunaikan ibadah haji atau yang sering disebut ziarah haji. Tradisi ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sarana mempererat silaturahmi, menyampaikan rasa syukur, memberikan ucapan selamat, serta memohon doa dari saudara-saudara yang baru saja menunaikan ibadah di Baitullah.

Tradisi ini merupakan bagian dari budaya Islam Nusantara yang mengandung nilai-nilai persaudaraan, penghormatan, dan kepedulian sosial. Selama dilaksanakan dengan niat yang baik dan sesuai dengan tuntunan agama, ziarah haji menjadi tradisi yang membawa banyak manfaat bagi kehidupan bermasyarakat.

Dasar Keagamaan Tradisi Ziarah Haji

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menjaga hubungan baik dengan sesama melalui silaturahmi.

Allah SWT berfirman:

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan kekeluargaan.”

(QS. An-Nisa’: 1)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Tradisi mengunjungi orang yang baru pulang haji merupakan salah satu bentuk nyata dari silaturahmi tersebut. Selain mempererat hubungan sosial, kunjungan ini juga menjadi ungkapan kegembiraan atas selesainya ibadah yang telah lama didambakan oleh setiap muslim.

Dalam tradisi Islam, meminta doa kepada sesama muslim yang saleh juga merupakan amalan yang diperbolehkan. Oleh karena itu, masyarakat sering memanfaatkan kesempatan ziarah haji untuk meminta doa agar diberikan kesehatan, keberkahan, keselamatan, dan kesempatan menyusul menunaikan ibadah haji.

Keutamaan Mengunjungi Jamaah Haji

Mengunjungi jamaah haji memiliki beberapa nilai kebaikan sekaligus, yaitu:

  1. Mempererat hubungan persaudaraan dan kebersamaan di tengah masyarakat.
  2. Menjadi sarana berbagi kebahagiaan dan rasa syukur atas kepulangan jamaah haji dalam keadaan sehat dan selamat.
  3. Menjadi kesempatan untuk saling mendoakan dalam kebaikan.
  4. Memberikan motivasi bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas ibadah dan menumbuhkan keinginan menunaikan ibadah haji di masa mendatang.

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan bahwa meminta doa kepada orang saleh merupakan amalan yang dianjurkan karena termasuk bentuk kerendahan hati dan harapan memperoleh keberkahan dari doa sesama muslim.

Adab Berkunjung kepada Orang yang Baru Pulang Haji

1. Meluruskan Niat

Tujuan utama berkunjung hendaknya untuk bersilaturahmi, menyampaikan rasa syukur, memberikan ucapan selamat, dan memohon doa.

Jangan sampai niat tersebut berubah hanya karena ingin memperoleh oleh-oleh atau kepentingan duniawi lainnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung pada niatnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

2. Memilih Waktu yang Tepat

Jamaah haji biasanya baru menempuh perjalanan panjang dan membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Karena itu, sebaiknya kunjungan dilakukan pada waktu yang tepat dan tidak mengganggu kenyamanan mereka. Menghormati kondisi tuan rumah merupakan bagian dari adab yang diajarkan Islam.

3. Mengucapkan Selamat dan Mendoakan

Saat bertemu, dianjurkan untuk menyampaikan ucapan selamat dan doa bagi kemabruran hajinya.

Salah satu doa yang biasa dibaca adalah:

Taqabbalallahu hajjaka, wa ghafara dzanbaka, wa akhlafa nafaqataka.

Artinya:

“Semoga Allah menerima hajimu, mengampuni dosa-dosamu, dan mengganti biaya yang telah engkau keluarkan dengan keberkahan.”

4. Meminta Doa dengan Penuh Hormat

Salah satu tujuan ziarah haji adalah meminta doa.

Hal ini boleh dilakukan selama tetap meyakini bahwa yang mengabulkan doa hanyalah Allah SWT. Jamaah haji hanyalah sesama muslim yang diharapkan turut mendoakan kebaikan bagi saudaranya.

Dalam tradisi pesantren, hal ini dikenal sebagai bentuk tabarruk, yaitu mengharap keberkahan melalui doa orang-orang yang baru menyelesaikan ibadah besar.

5. Membawa Buah Tangan Secukupnya

Sebagai bentuk penghormatan, tamu boleh membawa buah tangan sederhana sesuai kemampuan, seperti buah-buahan atau makanan ringan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.”

(HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Nilai terpenting dari hadiah bukanlah harganya, melainkan ketulusan dan perhatian kepada sesama.

6. Tidak Menuntut Oleh-Oleh

Oleh-oleh dari Tanah Suci seperti kurma, air zamzam, tasbih, atau cinderamata lainnya merupakan bentuk syukur dan berbagi kebahagiaan.

Namun, tamu tidak sepatutnya datang dengan tujuan utama mengharapkan oleh-oleh. Jika diberi, hendaknya diterima dengan rasa syukur. Jika tidak, silaturahmi tetap harus menjadi tujuan utama.

7. Menjaga Lama Kunjungan

Karena kondisi jamaah haji belum sepenuhnya pulih, tamu hendaknya tidak berlama-lama.

Silaturahmi yang singkat namun penuh kehangatan sering kali lebih berkesan daripada kunjungan panjang yang membuat tuan rumah kelelahan.

8. Mengambil Hikmah dari Pengalaman Haji

Kunjungan kepada jamaah haji juga dapat menjadi sarana belajar.

Pengalaman mereka selama berada di Makkah dan Madinah dapat memberikan pelajaran tentang kesabaran, keikhlasan, kedisiplinan, persaudaraan umat Islam, serta pentingnya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ziarah Haji sebagai Pendidikan Adab dalam Masyarakat

Di balik tradisi ziarah haji tersimpan pelajaran adab yang sangat berharga.

Tradisi ini mengajarkan cara menghormati orang lain, menjaga hubungan baik dengan keluarga dan tetangga, bertamu dengan sopan, serta membiasakan diri untuk saling mendoakan.

Ziarah haji juga mengajarkan sikap ikut bergembira atas kebahagiaan orang lain. Dalam kehidupan yang semakin sibuk dan individualistis, nilai-nilai seperti ini menjadi semakin penting untuk dipelihara.

Karena itu, hakikat ziarah haji bukanlah tentang banyaknya tamu yang datang atau banyaknya oleh-oleh yang dibagikan, melainkan tentang tumbuhnya adab, persaudaraan, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Hikmah Tradisi Ziarah Haji

Tradisi ini mengandung banyak manfaat, antara lain:

  1. Mempererat ukhuwah Islamiyah dan hubungan sosial masyarakat.
  2. Menumbuhkan rasa syukur atas nikmat Allah SWT.
  3. Menjadi sarana saling mendoakan dalam kebaikan.
  4. Mengambil pelajaran dari pengalaman spiritual jamaah haji.
  5. Menumbuhkan semangat untuk menunaikan ibadah haji.
  6. Menjaga tradisi keagamaan yang sarat nilai persaudaraan.
  7. Menumbuhkan kepedulian sosial dan budaya saling menghormati.

Penutup

Mengunjungi saudara yang baru pulang menunaikan ibadah haji merupakan tradisi yang baik dan selaras dengan nilai-nilai Islam. Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga belajar tentang adab, rasa syukur, penghormatan, dan kepedulian terhadap sesama.

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, tradisi ziarah haji tetap relevan untuk dipelihara karena mengandung nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan yang luhur. Selama dilakukan dengan niat yang baik dan sesuai tuntunan agama, tradisi ini akan terus menjadi sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah dan memperkaya khazanah Islam di Bumi Nusantara.

Semoga Allah SWT menerima ibadah para jamaah haji, menjadikan mereka haji yang mabrur, serta memberikan kesempatan kepada kita semua untuk dapat memenuhi panggilan-Nya ke Baitullah.

Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamin.