HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

“Kuliah di Kementerian, Rasa Reuni di Auditorium”: Mahasiswa UIN Salatiga Belajar Ketahanan Keluarga dari Sang Alumni

Laporan: Muhamad Nuraeni

JAKARTA | HARIAN7.COM – Suasana tak biasa terasa di Auditorium Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Rabu (29/4/2026). Ratusan mahasiswa UIN Salatiga datang bukan sekadar “ngampus pindah lokasi”, tetapi menjalani pengalaman akademik yang dibalut nuansa emosional, belajar langsung dari seorang menteri yang juga “senior kampus” mereka.

Mahasiswa dari Program Studi Psikologi Islam dan Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah itu mengikuti Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dengan konsep yang terasa “gokil tapi bermakna”: teori kampus ketemu praktik kebijakan negara, plus bonus reuni lintas generasi.

Dekan Fakultas Dakwah UIN Salatiga, Adang Kuswaya, menyebut momen ini lebih dari sekadar agenda kurikulum. Ada “chemistry akademik” sekaligus nostalgia institusional.

“Ini bukan hanya KKL, tapi juga reuni tipis-tipis. Pak Menteri Wihaji adalah alumni saat kampus ini masih bernama STAIN,” ujar Adang, disambut riuh antusias mahasiswa.

Baca Juga:  Perbatasan Membara! 12 Tewas, 31 Luka Akibat Serangan Militer Kamboja ke Thailand

Dari Teori ke Realita: “Ini Bukan Slide PPT Lagi”

Bagi mahasiswa, pengalaman ini seperti “upgrade realita”. Mereka tak lagi hanya membaca konsep ketahanan keluarga dari buku atau slide, tetapi melihat langsung bagaimana kebijakan dirancang dan dijalankan di tingkat nasional.

Dalam kuliah umum, Wihaji tampil bukan hanya sebagai pejabat, tetapi juga sebagai “kakak tingkat” yang paham betul perjalanan akademik mereka. Ia memaparkan arah kebijakan nasional yang terintegrasi dalam delapan program prioritas pemerintah, mulai dari ketahanan pangan hingga investasi global.

Namun yang paling “relate” dengan mahasiswa adalah bagaimana semua program itu bermuara pada satu hal: keluarga.

“Kalau keluarga kuat, negara ikut kuat. Sesederhana itu, tapi implementasinya kompleks,” kata Wihaji.

Ketahanan Keluarga: Dari Stunting sampai Peran Ayah

Wihaji kemudian mengurai lima program prioritas kementerian yang langsung menyasar keluarga. Mulai dari Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya), hingga Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).

Baca Juga:  Kasus Koperasi BLN Naik ke Penyidikan, YLBH PETIR Minta Penegakan Hukum Dipercepat

Di titik ini, mahasiswa Psikologi Islam mulai “nyambung total”. Isu peran ayah, komunikasi keluarga, hingga dinamika sosial bukan lagi sekadar teori, melainkan bagian dari kebijakan publik.

Program GATI, misalnya, menyoroti pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan, isu yang dalam kajian psikologi sosial terbukti berpengaruh besar terhadap perkembangan anak.

Tak kalah menarik, inovasi berbasis teknologi seperti AI SuperApps keluarga juga dikenalkan, memberi gambaran bagaimana digitalisasi masuk ke ranah ketahanan keluarga.

Kelas Jadi Hidup, Diskusi Jadi “Nendang”

Sesi tanya jawab menjadi salah satu momen paling hidup. Mahasiswa tak segan melempar pertanyaan kritis, dari tantangan implementasi program di daerah hingga peran generasi muda dalam isu kependudukan.

Wihaji merespons dengan gaya komunikatif khas “praktisi yang pernah jadi mahasiswa”. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan peran mahasiswa sebagai agen perubahan.

Baca Juga:  Pesawat Hercules Jatuh di Amazon Kolombia, Warga Jadi Penyelamat Pertama Korban

“Jangan cuma jadi penonton. Kalian ini calon problem solver di masyarakat,” tegasnya.

Lebih dari Sekadar KKL

Kegiatan ini menegaskan bahwa KKL bukan lagi formalitas akademik, melainkan ruang pembelajaran kontekstual yang “hidup”. Ada transfer ilmu, inspirasi karier, sekaligus refleksi identitas sebagai bagian dari komunitas akademik.

Bagi mahasiswa, ini bukan sekadar kunjungan, tetapi pengalaman yang membuka perspektif: bahwa ilmu yang mereka pelajari punya dampak nyata—langsung ke jantung kebijakan negara, dan pada akhirnya, ke kehidupan keluarga di masyarakat.

Di tengah tantangan zaman, satu pesan terasa kuat menggema dari auditorium itu: masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan besar, tetapi oleh kualitas keluarga, dan mahasiswa hari ini adalah bagian dari jawabannya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!