HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Rojo Tikus Menyapa Demak: Ketika Satire Kekuasaan Berpadu Magis di Panggung Terbuka

Laporan: Fera Marita

DEMAK  | HARIAN7.COM – Malam di halaman Stadion Pancasila, Kabupaten Demak, diproyeksikan tak sekadar menjadi ruang tontonan, melainkan pengalaman batin yang memantik tafsir. Pada Sabtu, 9 Mei 2026 pukul 19.00 WIB, Teater Lingkar Semarang menghadirkan pagelaran multidimensi bertajuk Rojo Tikus, sebuah kolaborasi lintas disiplin yang menggandeng budayawan Sujiwo Tejo.

Pertunjukan ini terbuka gratis untuk publik sebuah ajakan inklusif bagi masyarakat untuk menyelami seni yang meramu tradisi dan kontemporer dalam satu panggung.

Humas Teater Lingkar, Ario Bimo Gesit, menjelaskan bahwa konsep “pakeliran multidimensi” menjadi napas utama garapan kali ini. Dalam format tersebut, seni pedalangan tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan dengan teater, tari, serta komposisi musik yang menggabungkan instrumen diatonis dan pentatonis.

Baca Juga:  Siswi SMP di Ngawi Hamil, Dua Pria Paruh Baya Diperiksa Polisi

“Kebaruan yang ditawarkan adalah pengembangan seni tradisi tanpa sepenuhnya meninggalkan pakem sebagai landasan dasar,” ujarnya.

Di balik layar kreatif, nama Sindhunata Gesit Widiharto tampil sebagai sosok sentral. Ia mengusung peran ganda sebagai “Sutradalang”, menggabungkan fungsi sutradara sekaligus dalang dalam satu kendali artistik. Peran ini menjadi kunci dalam merajut alur dramatik yang tak hanya visual, tetapi juga filosofis.

Baca Juga:  Minyak Jelantah Jadi Peluang Emas, Batang Ubah Limbah Jadi Laba

Rojo Tikus mengisahkan tokoh fiktif Tuan Wirog Bawono, seorang politikus dari “Negeri Sahara” yang pernah tenggelam dalam praktik korupsi bersama kelompok “Partai Tikus”. Ia digambarkan sebagai simbol kekuasaan yang rakus, hingga melahirkan apa yang disebut sebagai “Orde Tikus”.

Namun, cerita tidak berhenti pada kritik. Wirog Bawono digambarkan berada di persimpangan antara keinginan untuk bertobat dan tarikan kuat dari lingkaran kekuasaan yang korup. Sosok istrinya, Queen Milly Cherry, menjadi representasi godaan duniawi yang menggoyahkan niat hijrah tersebut.

Konflik batin semakin kompleks dengan hadirnya dua figur dari alam bawah sadar: Ibu Suri yang bijak, serta leluhur kejam Kakek Jinada. Keduanya muncul dalam mimpi Wirog, menghadirkan tarik-menarik antara nilai kebajikan dan kerakusan yang diwariskan.

Baca Juga:  50 Pejabat Fungsional Dilantik, Bupati Ingatkan Untuk Profesionalisme

Di titik inilah Rojo Tikus menemukan kekuatannya bukan sekadar pertunjukan, tetapi refleksi sosial yang dibalut nuansa magis khas budaya Jawa. Penonton diajak menyelami pertanyaan mendasar: mungkinkah seorang “raja tikus berdasi” bertransformasi menjadi sosok yang lebih luhur?

Jawabannya, seperti disiratkan Teater Lingkar, tidak disampaikan secara gamblang. Ia dibiarkan mengendap dalam tafsir masing-masing penonton, menjadikan panggung sebagai cermin, bukan sekadar hiburan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!