Harga Bahan Baku Plastik Melejit, Jateng Perketat Pengawasan dan Dorong Bioplastik
Laporan: Shodiq
SEMARANG,HARIAN7.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperketat pengawasan distribusi plastik menyusul lonjakan harga bahan baku global akibat ketegangan geopolitik di Selat Hormuz. Selain menggandeng kepolisian untuk mencegah praktik penimbunan, Pemprov mulai mengakselerasi transisi penggunaan bioplastik berbasis pati singkong sebagai solusi jangka panjang yang ramah lingkungan.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Tengah, July Emmylia, mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini dipicu oleh melambungnya harga naphta—bahan baku utama plastik—dari 600 dolar AS menjadi 900 dolar AS per ton.
“Kenaikan ini berdampak langsung pada biaya produksi di tingkat industri, terutama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sektor makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan plastik,” ujar Emmy di kantornya, Jumat (10/4/2026).
Untuk menjaga stabilitas pasar, Pemprov Jateng mengambil langkah preventif dengan melakukan pengawasan ketat di lapangan. Emmy menegaskan pihaknya tidak akan segan menindak oknum yang kedapatan menimbun stok untuk mencari keuntungan pribadi di tengah masa sulit.
“Dalam jangka pendek, kami turun bersama aparat kepolisian untuk memastikan distribusi lancar dan tidak ada praktik penimbunan,” tegasnya.
Sebagai solusi berkelanjutan, Emmy mendorong industri untuk mulai melirik bioplastik. Meski saat ini harganya masih relatif tinggi dibandingkan plastik konvensional, penggunaan bahan baku lokal seperti pati singkong dinilai mampu melepaskan ketergantungan industri dari fluktuasi harga global.
Ia menyarankan agar pelaku usaha melakukan substitusi secara bertahap, dimulai dari porsi 20 hingga 30 persen penggunaan bahan ramah lingkungan. Untuk menekan biaya produksi yang muncul akibat transisi ini, Pemprov menyarankan transformasi menuju industri hijau melalui efisiensi energi.
“Pemanfaatan panel surya, misalnya, bisa menghemat biaya produksi hingga 20 persen. Efisiensi ini bisa dialokasikan untuk menutup selisih harga bahan baku ramah lingkungan,” tambahnya.
Melalui momentum ini, Pemprov Jateng mengajak masyarakat dan pelaku usaha untuk memperkuat budaya pengurangan plastik sekali pakai, seperti penggunaan tumbler dan tas belanja pakai ulang. “Tantangan harga ini harus kita jadikan peluang untuk bertransformasi ke industri yang lebih hijau dan mandiri,” pungkas Emmy.(*)













Tinggalkan Balasan