HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Merintis dari Nol, Java Kriya Craft Kini Bidik Pasar Jepang

Laporan: Muhamad Nuraeni

UNGARAN | HARIAN7.COM – Di sebuah sudut Dusun Glendang, Desa Watuagung, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, derit halus kuas yang menyapu permukaan kayu berpadu dengan aroma cat yang khas. Dua perempuan paruh baya duduk bersila, tekun memberi warna pada kotak-kotak kayu. Tak jauh dari mereka, seorang pria sibuk menyempurnakan puluhan potongan kayu berbentuk bumerang.

Pemandangan itu bukan sekadar aktivitas kerajinan biasa. Dari ruang sederhana inilah, produk-produk kayu buatan tangan menempuh perjalanan panjang hingga ke Australia, Singapura, dan Sri Lanka, bahkan kini tengah membuka jalan ke Jepang.

Tempat itu adalah Java Kriya Craft, usaha yang dirintis sejak 2005 oleh Vitri Damayanti (49) bersama suaminya. Awalnya, usaha ini tidak langsung memproduksi sendiri. Vitri mengisahkan, mereka memulai dari peran sebagai perantara.

Baca Juga:  Serem! Puluhan Hantu Berkumpul di Saloka Theme Park

“Dulu kami hanya mengambil barang dari perajin di Kasongan, Bantul, lalu dikirim ke distributor di Australia,” kata Vitri, Rabu (1/4/2026).

Seiring waktu, keinginan untuk mandiri mendorong mereka naik kelas. Dari menyewa gudang di Bantul, perjalanan usaha ini berlanjut ke Kabupaten Semarang setelah menemukan lahan yang lebih terjangkau. Meski sempat terkendala akses logistik karena truk kontainer sulit menjangkau lokasi awal, mereka akhirnya menetap di Watuagung tempat usaha itu berkembang hingga kini.

Langkah besar diambil saat Vitri mendatangkan 10 pelukis dari Bandung untuk melatih warga sekitar. Selama dua bulan, keterampilan baru ditanamkan, membuka peluang bagi masyarakat lokal untuk terlibat langsung dalam proses produksi.

Baca Juga:  Siap-Siap Merinding! “DASIM” Siap Hantui Bioskop Mulai 15 Mei 2025 — Teror Rumah Tangga Bikin Bulu Kuduk Berdiri

Kini, sekitar 90 persen pekerja Java Kriya Craft adalah warga sekitar. Bahan baku pun sepenuhnya berasal dari wilayah Kabupaten Semarang, seperti kayu sengon dan mahoni, serta material pendukung dari Bandungan.

“Kami ingin tidak hanya membangun usaha, tapi juga memberdayakan masyarakat sekitar,” ujar Vitri.

Produk yang dihasilkan beragam, mulai dari bumerang, didgeridoo, coaster, hingga gantungan kunci. Menariknya, sebagian besar produk tersebut merupakan souvenir khas Australia pasar utama yang telah digarap sejak awal. Dalam sekali pengiriman, jumlahnya bahkan bisa mencapai dua kontainer.

Namun, pandemi Covid-19 sempat menjadi titik balik. Menurunnya jumlah wisatawan ke Australia membuat permintaan merosot, dan stok barang menumpuk. Kondisi itu memaksa Vitri beradaptasi.

Ia mulai melirik pasar baru seperti Singapura dan Sri Lanka, sekaligus aktif mengikuti pameran kerajinan, termasuk Inacraft. Dari sana, peluang baru terbuka termasuk penjajakan pasar Jepang yang kini tengah berlangsung.

Baca Juga:  Muh Haris Salurkan Bantuan Sembako untuk Korban Atap Roboh di Nanggulan

Meski belum sepenuhnya pulih, geliat pasar Australia mulai terasa kembali. Di tengah tantangan itu, Vitri tetap memfokuskan bidikan ke pasar internasional, sembari perlahan membuka peluang di dalam negeri.

“Kami masih menjajaki pasar lokal, tapi memang fokus utama masih ke luar negeri,” katanya.

Dari tangan-tangan terampil di desa kecil, potongan kayu sederhana menjelma menjadi produk bernilai ekspor. Java Kriya Craft menjadi bukti, bahwa keterbatasan ruang bukanlah penghalang untuk menembus pasar global, selama ada ketekunan, keberanian beradaptasi, dan komitmen memberdayakan sekitar.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!