HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Dari Kantor Yayasan Jallu Nusantara Indonesia, Kolaborasi ASEAN Dirumuskan untuk Tekan Kekerasan Berbasis Gender

Laporan: Muhamad Nuraeni

SALATIGA | HARIAN7.COM – Penguatan upaya pencegahan kekerasan berbasis gender menjadi fokus utama dalam diskusi strategis yang digelar Yayasan Jallu Nusantara Indonesia bersama perwakilan Southeast Asia Gender Based Violence (GBV) Prevention Platform, Rabu (1/4/2026).

Pertemuan yang berlangsung di Kantor Yayasan Jallu Nusantara Indonesia ini menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dan lintas negara dalam menghadapi persoalan kekerasan berbasis gender yang dinilai masih kompleks dan berlapis.

Perwakilan Southeast Asia GBV Prevention Platform menegaskan bahwa pendekatan kolaboratif menjadi kunci dalam mendorong perubahan yang lebih luas.

Baca Juga:  Ramcek Terpadu Bus di Terminal Tingkir Jelang Lebaran, Petugas Temukan APAR Kedaluwarsa dan Minim Seat Belt

“Penanganan kekerasan berbasis gender tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kerja sama lintas sektor, termasuk pemerintah, komunitas, dan lembaga sipil agar upaya pencegahan lebih efektif,” ujarnya dalam diskusi.

Ia juga menambahkan, praktik baik dari berbagai negara di kawasan ASEAN dapat menjadi referensi penting dalam memperkuat strategi di tingkat lokal.

“Kami melihat banyak pendekatan berbasis komunitas yang berhasil. Ini bisa diadaptasi sesuai konteks sosial di masing-masing daerah,” katanya.

Baca Juga:  KDEMI gelar Kopi Darat di Boyolali

Sementara itu, perwakilan Yayasan Jallu Nusantara Indonesia menekankan pentingnya peran masyarakat dalam upaya pencegahan.

“Komunitas lokal memiliki posisi strategis karena mereka yang paling dekat dengan korban. Penguatan kapasitas mereka, termasuk paralegal, menjadi bagian penting dari upaya kami,” ungkapnya.

Menurutnya, edukasi yang berkelanjutan juga menjadi fondasi dalam mencegah kekerasan sejak dini.

Baca Juga:  Empat Debt Collector Sleman Ditangkap Satreskrim Polresta Magelang, Diduga Culik Ibu dan Anak

“Pencegahan tidak cukup hanya dengan penanganan kasus. Edukasi publik harus terus dilakukan agar kesadaran masyarakat meningkat,” tambahnya.

Diskusi ini juga membuka peluang kerja sama lanjutan antara kedua pihak, terutama dalam pengembangan program berbasis komunitas yang lebih responsif terhadap kebutuhan korban.

Melalui kolaborasi ini, diharapkan lahir strategi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan dalam menciptakan lingkungan yang aman serta bebas dari kekerasan berbasis gender, baik di tingkat lokal maupun regional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!