Dari Kamera Film ke Era Digital: Menjaga Nyala Kepercayaan di Tengah Badai Informasi
Laporan: Muhamad Nuraeni
SALATIGA | HARIAN7.COM – Pada tahun 2004, seorang wartawan muda melangkah ke kantor redaksi di Jalan MT Haryono dengan peralatan yang hari ini nyaris jadi artefak: kamera manual, blocknote, dan tape recorder. Dari sanalah perjalanan panjang itu dimulai sebuah perjalanan yang bukan hanya tentang menulis berita, tetapi menyaksikan perubahan wajah jurnalistik dari dekat.
Adalah Dhinar Sasongko, jurnalis Jawa Pos Radar Semarang, yang mengisahkan bagaimana profesi ini bertransformasi, dari dunia yang serba manual hingga kini serba digital dan serba cepat. Penugasan pertamanya di Salatiga menjadi ruang belajar paling nyata tentang arti ketelitian dan kesabaran.
“Dulu, semua proses itu butuh waktu. Kamera masih pakai film, harus dicuci dulu sebelum bisa dikirim ke redaksi. Jadi setiap momen benar-benar harus dipikirkan matang,” ujarnya saat dihubungi harian7.com, Rabu (1/4/2026).
Di masa itu, waktu dan akurasi adalah dua hal yang tak bisa ditawar. Satu kesalahan kecil bisa berarti kehilangan momen penting. Tidak ada tombol “hapus” atau “ulang” seperti hari ini. Semua berjalan dalam ritme yang pelan, tetapi penuh kehati-hatian.
Perubahan mulai terasa ketika kamera digital masuk ke ruang kerja wartawan. Meski hanya beresolusi 2 megapiksel dan harganya mahal hingga harus dicicil, teknologi ini membuka jalan bagi efisiensi. Proses pengiriman foto menjadi lebih cepat, meski adaptasi tetap menjadi tantangan.
Lompatan berikutnya hadir lewat BlackBerry. Perangkat ini menjadi titik balik, menggabungkan fungsi mencatat, merekam, hingga mengirim informasi dalam satu genggaman. Sejak saat itu, kecepatan menjadi mata uang baru dalam dunia jurnalistik.
Namun jauh sebelum itu, Dhinar mengingat masa ketika koran berada di puncak kejayaan, terutama pada era 1990-an. Saat itu, masyarakat menggantungkan informasi dari lembaran koran yang dibaca setiap pagi.
“Dulu koran itu rujukan utama. Orang percaya karena berita yang terbit sudah melalui proses panjang dan bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.
Kini, lanskap itu berubah drastis. Internet dan telepon genggam membuka arus informasi tanpa batas. Siapa pun bisa menjadi “penyampai berita”. Namun derasnya informasi juga membawa konsekuensi: maraknya hoaks dan informasi tanpa verifikasi.
Di tengah riuh tersebut, pers cetak justru menemukan kembali jati dirinya sebagai penjaga legitimasi informasi. Setiap berita yang terbit bukan sekadar cepat, tetapi harus akurat dan melalui proses berlapis.
“Di koran, tidak ada ruang untuk informasi yang tidak jelas sumbernya. Semua harus diverifikasi. Itu yang membuat kepercayaan tetap terjaga,” tegas Dhinar.
Memasuki 2026, gelombang disrupsi digital telah memaksa banyak media cetak berhenti beroperasi. Namun tidak semua tumbang. Media yang mampu menjaga kualitas dan kepercayaan publik tetap bertahan, meski harus beradaptasi dengan zaman.
Bagi Jawa Pos Radar Semarang, tanggal 1 April 2026 menjadi penanda perjalanan 26 tahun fase yang kerap disebut sebagai masa emas. Dalam rentang itu, berbagai fase telah dilalui: dari keterbatasan teknologi, masa kejayaan pers cetak, hingga terpaan deras digitalisasi.
Perjalanan ini, bagi Dhinar, bukan sekadar soal bertahan, tetapi tentang menjaga esensi.
“Selama integritas tetap jadi fondasi, dan kepercayaan publik dijaga, koran akan selalu punya tempat,” ujarnya.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, kisah ini menjadi pengingat bahwa jurnalisme bukan hanya soal siapa yang paling dulu menyampaikan, tetapi siapa yang paling bisa dipercaya. Dan di situlah, pers cetak meski tak lagi dominan tetap berdiri sebagai penjaga kebenaran.(*)













Tinggalkan Balasan