SD Muhammadiyah 1 Temanggung Hentikan Program MBG Usai Temukan Makanan Tak Layak
Kontributor Temanggung: Wahono
TEMANGGUNG | HARIAN7.COM – SD Muhammadiyah 1 Temanggung menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah menemukan makanan yang dinilai tidak layak konsumsi. Keputusan itu diambil menyusul laporan wali murid dan guru terkait kondisi paket MBG yang diterima sekolah pada Senin, 23 Februari 2026.
Paket MBG dari SPPG Giyanti berisi roti, telur rebus, susu, dan kurma. Setelah dilakukan pengecekan, sekolah menemukan sejumlah kejanggalan: roti berjamur, susu kedaluwarsa, kurma berulat, serta telur rebus yang berair. Sejumlah siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan tersebut.
Pihak sekolah kemudian melakukan verifikasi dengan berbagai pihak, termasuk SPPG Giyanti, Dinas Kesehatan, dan Polres Temanggung. Penghentian program MBG diputuskan sebagai langkah pencegahan demi keamanan dan kesehatan siswa.
“Kejadian ini merupakan kedua kalinya, sehingga membuat trauma dan keresahan bagi sekolah, guru, wali murid, dan siswa. Sekolah berharap agar kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk meningkatkan kualitas dan keamanan makanan yang disalurkan melalui program MBG,” ujar Kepala SD Muhammadiyah 1 Temanggung, Triana Widiastuti, di ruang kerjanya, Kamis (26/2/2026).
Triana menyebutkan, beberapa siswa mengalami gejala muntah dan sakit perut setelah mengonsumsi MBG tersebut. “Salah satu anak bahkan sempat dibawa ke IGD, namun alhamdulillah diperbolehkan rawat jalan,” katanya.
Sekolah juga langsung menghubungi dapur SPPG Giyanti setelah menerima laporan roti berbau tidak sedap. Untuk mencegah dampak lebih luas, pihak sekolah menginformasikan kepada wali murid melalui grup WhatsApp kelas agar siswa tidak mengonsumsi MBG hari itu sebelum berbuka puasa.
“Alhamdulillah, korban tidak begitu banyak, karena sebelum buka puasa kita memberikan informasi ke wali murid lewat WAG kelas untuk tidak mengonsumsi MBG hari itu,” ujarnya.
Secara keseluruhan, terdapat beberapa siswa yang mengalami gejala muntah dan sakit perut, tanpa korban jiwa. Sekolah dan orang tua siswa menyampaikan apresiasi atas respons cepat pihak terkait dalam penanganan kejadian tersebut.
Karena peristiwa serupa telah terjadi untuk kedua kalinya, kepala sekolah bersama jajaran mengambil keputusan tegas untuk menolak kembali menerima MBG dari dapur tersebut. Langkah ini diambil lantaran adanya trauma dan kekhawatiran kejadian serupa kembali terulang dan berpotensi menimbulkan korban.












Tinggalkan Balasan