Petani Sragen–Ngawi Duduk Satu Meja, Sepakati Bagi Air Sungai Kedung Urung-Urung
Laporan Budi Santoso
NGAWI | HARIAN7.COM – Di tengah secangkir kopi dan suasana warung angkringan, para petani lintas Sragen dan Ngawi memilih jalan musyawarah. Ketua-ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A/HIPPA) yang menggantungkan hidup dari aliran Sungai Kedung Urung-Urung, atau dikenal pula sebagai Sungai Sawur, berkumpul untuk memastikan air irigasi mengalir adil ke sawah masing-masing.
Rapat koordinasi itu digelar di Warung Angkringan Abah Syarif, Desa Glonggong, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Sabtu malam, 10 Januari 2026. Pertemuan dimulai pukul 20.00 WIB dan berlangsung hingga larut dengan satu agenda utama: pembagian air irigasi lintas Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua P3A Desa Ketanggung, Wiwid; Ketua P3A Desa Tambakboyo, Kecamatan Mantingan, Zainuri, beserta pengurus dan subblok; serta Ketua P3A Desa Tunggul, Desa Glonggong, Sadi, bersama jajaran pengurus dan subblok.
Sadi, yang juga bertindak sebagai panitia, menegaskan pentingnya memegang kesepakatan bersama. “Pertemuan ini kita maksudkan untuk menyepakati pembagian air sesuai aturan yang sudah ada sebelumnya,” ujar Sadi. Menurut dia, kunci utama pengelolaan irigasi adalah keadilan antarwilayah.
“Pembagian air harus sama antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pintu air di Kedung Urung-Urung sudah tersedia, tinggal kita jaga bersama,” katanya.
Ia mengingatkan agar tidak ada pihak yang bermain curang. “Jangan sampai ada pengrusakan gembok atau membendung air yang sudah dibagi, hanya demi mengaliri sawahnya sendiri,” ujar Sadi. “Kalau itu terjadi, yang rugi kita semua.”
Antisipasi musim kemarau juga menjadi sorotan. Sadi menyebut, pada musim tanam ketiga ketika debit air menyusut, koordinasi lintas daerah harus diperkuat. “Kalau debit air kecil, kita akan adakan koordinasi gabungan, termasuk dengan petani dan P3A di Kabupaten Karanganyar,” katanya. Ia mengingatkan bahwa hulu Sungai Kedung Urung-Urung berada di Dam Srambang dan Sedayu, wilayah Karanganyar. “Aliran dari hulu jangan sampai ditutup,” ujarnya.
Kesepakatan itu diamini Sekretaris P3A Sri Makmur Desa Ketanggung, Budi Gendut. Ia menekankan pentingnya pengawasan bersama. “Kita sepakat untuk dijaga bersama, jangan sampai ada yang curang, istilahnya nyolong banyu, baik itu subblok maupun petaninya,” kata Budi.
Menurut Budi, tata kelola irigasi sejatinya sudah diatur oleh dinas terkait. “Irigasi sudah diatur oleh Dinas Pengairan Ngawi maupun Sragen,” ujarnya.
Namun, ia menilai penguatan koordinasi tetap diperlukan, terutama saat kemarau. “Saya akan bersurat ke Dinas Pengairan Kabupaten Sragen, Karanganyar, dan Ngawi agar pembagian air benar-benar adil dan merata,” katanya.
Ia mengingatkan, perebutan air kerap menjadi sumber konflik di tingkat petani. “Musim kemarau itu rawan rebutan air. Kalau tidak diantisipasi, bisa memicu konflik antarpetani,” ujar Budi menutup pertemuan. (*)













Tinggalkan Balasan