Bakar Ban di Tengah Kampus, Mahasiswa UKSW Ultimatum Rektorat Cabut Mandat Rektor
Laporan: Muhamad Nuraeni
SALATIGA | HARIAN7.COM – Asap hitam membumbung tinggi di halaman depan gedung Lembaga Kemahasiswaan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. Jumat (11/7/2025) pagi, puluhan mahasiswa membakar ban bekas sebagai simbol kemarahan yang tak lagi terbendung. Konflik internal yang berlarut-larut membuat kesabaran mahasiswa menipis, dan kali ini mereka datang dengan tuntutan yang lebih tegas: cabut mandat Rektor Intyas Utami.
Aksi yang dilakukan di dalam lingkungan kampus itu menyulut perhatian. Tak sekadar membakar ban, para mahasiswa juga mendirikan dua tenda keprihatinan. “Tenda ini menggambarkan suasana kebatinan kami. Kami lelah, tapi perjuangan belum selesai,” ujar Ketua Senat Mahasiswa Universitas (SMU) UKSW, Tri Aprivander Waruwu atau akrab disapa Vander.
Menurut Vander, aksi ini merupakan kelanjutan dari berbagai upaya yang sebelumnya telah ditempuh. Sejak 2 Mei 2025, mahasiswa telah melakukan aksi dan meminta dialog terbuka. Namun, semua langkah dianggap mentok di pintu rektorat.
“Kami hanya ingin solusi yang terbaik, namun rupanya hal ini tidak ditanggapi oleh rektorat. Ruang diskusi tidak pernah dibuka dengan baik,” tegas Vander.
Situasi pun semakin mengerucut. Jika sebelumnya mahasiswa menyatakan mosi tidak percaya, kini berubah menjadi gerakan pencabutan mandat terhadap Rektor UKSW, Prof. Intyas Utami.
“Yang kami tuntut adalah persoalan hak kami. Dengan kejadian ini bisa menyadarkan dan mendesak kembali jawaban pasti para pembina,” katanya.
“Kami telah melayangkan mosi tidak percaya kepada rektor, tapi hari ini kami bersepakat para pimpinan UKSW mencabut mandat rektor yang diberikan kepada Prof. Intyas Utami,” imbuhnya.
Kekecewaan mahasiswa bukan tanpa alasan. Mereka menilai, sejak awal konflik pecah akibat pencopotan dekan Fakultas Hukum beserta jajarannya, kampus tak pernah memberi jawaban memuaskan. Gerakan protes yang semula berasal dari Fakultas Hukum kini merambah ke Fakultas Teknologi Informasi (FTI) dan fakultas lainnya.
“Tidak ada keputusan apapun dari pertemuan tersebut dan hingga saat ini situasi UKSW tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik,” tandas Vander.
Melalui aksi ini, mahasiswa memberikan waktu tiga hari kepada rektorat dan pihak pembina untuk merespons tuntutan mereka.
Tinggalkan Balasan