Laporan: Muhamad Nuraeni
SALATIGA,HARIAN7.COM – Mempertahankan usaha kuliner legendaris bukan perkara mudah. Selain menjaga cita rasa yang sudah dikenal pelanggan, pelaku usaha juga dituntut terus berinovasi agar mampu bertahan di tengah persaingan.
Hal itu dilakukan Nunuk Tri Setioningsih pemilik kuliner Harjo Kantil Bu Nunuk di Salatiga. Tak hanya mempertahankan usaha yang telah dikenal masyarakat di Jalan Jenderal Sudirman (Jensud), Nunuk juga mengembangkan bisnisnya dengan membuka cabang di kawasan Kuliner Kridanggo, tepatnya di lantai dua, bersebelahan dengan Dinas Pendidikan.
Menariknya, cabang tersebut mulai dirintis ketika pandemi Covid-19 masih berlangsung. Keputusan membuka usaha di tengah situasi sulit itu menjadi tantangan tersendiri bagi Nunuk dan suaminya.
Menurut Nunuk, kehadiran cabang baru tersebut bukan sekadar memperluas usaha. Ada tanggung jawab besar untuk menjaga nama Harjo Kantil yang sudah lebih dahulu dikenal pelanggan.
“Harjo Kantil yang di Jalan Jensud sudah legendaris. Jadi, ketika kami membuka cabang di sini, tidak boleh main-main. Ini tantangan bagi kami, apalagi saat itu masih masa pandemi,” ujar Nunuk.
Ia mengaku harus mengelola dan menjaga langsung cabang tersebut. Bahkan, selama tujuh tahun terakhir, Nunuk memilih berada di lokasi untuk memastikan pelayanan dan kualitas makanan tetap terjaga.
Keberadaan warung di lantai dua tidak membuatnya kehilangan pelanggan. Secara bertahap, pelanggan mulai berdatangan dan mengenal menu-menu yang ditawarkan.
Salah satu menu yang menjadi andalan sekaligus paling banyak diminati pelanggan adalah Hewes-Hewes Kambing.
Menu tersebut berisi potongan daging kambing dan iga dengan harga Rp 40.000 per porsi. Menariknya, satu porsi dapat dinikmati hingga dua orang.
Nunuk mengatakan, menu tersebut menjadi salah satu sajian yang paling cepat habis dibandingkan menu lainnya.
“Menu andalan kami yang direkomendasikan dan paling laris adalah Hewes-Hewes Kambing. Isinya ada daging dan iga, harganya Rp 40.000 dan bisa dinikmati dua orang,” katanya.
Dalam sehari, penjualan menu tersebut rata-rata mencapai sekitar 10 hingga 15 porsi.
Selain Hewes-Hewes Kambing, Harjo Kantil juga menawarkan sejumlah menu lain, di antaranya tongseng sapi, gongso, dan tengkleng gongso.
Tengkleng gongso memiliki karakteristik tersendiri. Sajian ini sekilas menyerupai Hewes-Hewes Kambing, tetapi dilengkapi potongan kol berukuran besar dan irisan tomat. Harganya dibanderol Rp 35.000 per porsi.
Nunuk menjelaskan, inovasi menu menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk menjaga keberlangsungan usaha, terutama setelah pandemi Covid-19.
Ia tidak ingin hanya mengandalkan nama besar Harjo Kantil yang sudah dikenal masyarakat. Pengembangan menu menjadi bagian dari upaya menarik pelanggan sekaligus mempertahankan kepercayaan konsumen.
Selama tujuh tahun mengelola cabang di Kuliner Kridanggo, Nunuk bersyukur usaha tersebut masih bertahan dan memiliki pelanggan tersendiri.
Harjo Kantil di Kuliner Kridanggo melayani pelanggan mulai pukul 09.00 hingga 19.00 WIB.
Bagi Nunuk, mempertahankan usaha bukan hanya soal membuka cabang dan menjual makanan. Lebih dari itu, konsistensi menjaga kualitas serta keberanian berinovasi menjadi bagian penting agar usaha kuliner tetap bertahan di tengah perubahan selera dan persaingan.









Tinggalkan Balasan