Laporan: Muhamad Nuraeni
REMBANG|HARIAN7.COM – Polemik antara MTsN 1 Rembang dan dua wartawan yang sempat terjadi saat peliputan dugaan siswa sakit akhirnya berakhir dengan permintaan maaf. Meski sempat membuat gaduh, persoalan tersebut diselesaikan lewat pertemuan yang mempertemukan pihak madrasah dan insan pers.
Guru MTsN 1 Rembang, Purwantini, menyampaikan permohonan maaf kepada wartawan RTV, Minan, dan wartawan Disway, Ezra, terkait sikapnya yang sempat melarang pengambilan gambar dan video ketika seorang siswa sakit hendak dibawa ke Puskesmas Lasem, Rabu (9/9/2026).
Permintaan maaf itu disampaikan di Lasem, Kamis (10/9/2026), dengan didampingi jajaran pimpinan MTsN 1 Rembang, mulai dari Wakil Kepala Sarana Prasarana Chris Sutopo, Waka Humas Izzatin Nuril Latifah, Waka Kesiswaan Widowati, Waka Kurikulum Maria Ulfah, serta Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Rembang Sumardi dan Humas Kemenag Rembang Shofatus Shodiqoh.
Ironisnya, persoalan bermula dari hal yang sebenarnya sederhana: wartawan hendak mendokumentasikan kondisi siswa yang sakit. Namun, niat mencari informasi itu sempat terhambat karena diminta menunjukkan surat tugas.
Purwantini mengaku sikap tersebut muncul karena kurang memahami mekanisme kerja jurnalistik.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Bu Purwantini atau Bu Nini mohon maaf atas sikap kami yang kemarin. Bukan maksud saya untuk menghalang-halangi teman-teman media untuk mencari informasi,” ujar Purwantini.
“Karena sikap kami yang kemarin itu, jadi mohon maaf sebesar-besarnya. Itu murni perbuatan saya dan saya sekali lagi mohon maaf kepada teman-teman media,” lanjutnya.
Pihak madrasah memastikan tidak ada lagi persoalan antara sekolah dan wartawan. Kedua belah pihak sepakat mengakhiri permasalahan tersebut secara baik-baik.
Sebelumnya, Purwantini diketahui sedang membantu memapah seorang siswa yang mengalami sakit menuju kendaraan untuk dibawa ke Puskesmas Lasem. Saat itu, dua wartawan hendak mengambil gambar dan video.
Namun, pengambilan dokumentasi tersebut sempat dilarang karena alasan tidak membawa surat tugas.
Setelah kejadian itu, wartawan RTV dan Disway kemudian meminta keterangan kepada Wakil Kepala Sarana Prasarana MTsN 1 Rembang, Chris Sutopo, terkait dugaan puluhan siswa mengalami gangguan kesehatan usai program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Chris justru memberikan ruang bagi wartawan untuk memperoleh informasi. Tak lama kemudian, sejumlah wartawan lain dan pihak kepolisian juga diterima oleh pihak madrasah untuk meminta keterangan.
“Seluruh keterangan terkait dugaan keracunan MBG siswa MTsN 1 Rembang telah disampaikan,” kata Waka Humas MTsN 1 Rembang, Izzatin Nuril Latifah.
Sementara itu, terkait kondisi kesehatan siswa, sebanyak 46 siswa menjalani pemeriksaan awal oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang. Dari jumlah tersebut, empat siswa sempat dirawat di Puskesmas Lasem.
Satu guru, yakni Purwantini, juga sempat mengalami sakit diare, namun tetap mendampingi siswa menuju fasilitas kesehatan.
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan puluhan siswa mengalami gejala seperti pusing, mual, dan muntah. Namun, penyebab pasti keluhan tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.
“Hasil screening dan penyebab siswa sakit masih dalam observasi. Kira-kira dua minggu hasil baru akan diberikan,” ujar Izzatin.
Hingga Kamis (10/9/2026), sekitar 1.000 siswa MTsN 1 Rembang dilaporkan dalam kondisi sehat dan tetap mengikuti pembelajaran seperti biasa. Sementara siswa yang baru pulang dari puskesmas diberikan izin untuk beristirahat.
Penyelesaian kasus ini menjadi pengingat bahwa komunikasi antara lembaga pendidikan dan wartawan tidak cukup hanya mengandalkan prasangka. Sebab, di tengah kebutuhan informasi publik, pintu sekolah dan ruang redaksi sama-sama membutuhkan satu hal: komunikasi yang tidak mudah tersulut.(*)









Tinggalkan Balasan