Laporan: Muhamad Nuraeni

SALATIGA | HARIAN7.COM – Jalan menuju negeri Sakura kini mulai terbuka bagi warga Kota Salatiga. Bukan sekadar wacana, peluang kerja ke Jepang menjadi salah satu agenda strategis yang dibahas Pemerintah Kota Salatiga bersama Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Serbaindo.

Dalam audiensi di Ruang Kerja Wali Kota Salatiga, Selasa (4/8/2026), LPK Serbaindo membawa tawaran besar: membangun ekosistem penyiapan tenaga kerja lokal agar mampu menembus pasar kerja internasional, khususnya Jepang.

Pertemuan yang dipimpin langsung Wali Kota Salatiga dr. Robby Hernawan, Sp.OG itu menghadirkan Papi Iman atau Iman Abdul Rahman selaku pimpinan LPK Serbaindo, Presiden Direktur Exceed Cooperative Japan Watanabe Daisuke, Harada, serta jajaran Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinnaker) Kota Salatiga.

Tak hanya menawarkan program pelatihan, LPK Serbaindo juga membawa konsep kolaborasi jangka panjang, mulai dari pengiriman tenaga kerja resmi, penguatan sumber daya manusia, hingga peluang kerja sama internasional di berbagai sektor.

Bukan Jalur Tidak Resmi, Serbaindo Kantongi Izin Pemerintah

Iman menjelaskan, LPK Serbaindo saat ini telah memiliki izin resmi dari Kementerian Ketenagakerjaan sebagai Sending Organization (SO).

Status tersebut membuat lembaganya memiliki kewenangan menyiapkan dan memberangkatkan tenaga kerja Indonesia ke Jepang melalui mekanisme resmi.

“Legalitas ini menjadi dasar kami untuk membangun program penempatan tenaga kerja yang profesional dan sesuai standar Jepang,” ujar Iman.

Selama ini, LPK Serbaindo telah membina ratusan peserta, terutama untuk bidang caregiver atau tenaga pendamping lansia. Profesi tersebut menjadi salah satu bidang yang banyak dibutuhkan Jepang akibat meningkatnya populasi lanjut usia.

Target Puluhan Ribu Peserta

Dalam pemaparannya, Iman menyebut kolaborasi bersama pemerintah daerah menjadi kunci agar informasi peluang kerja tersebut tidak hanya diketahui sebagian masyarakat.

Ia mengusulkan adanya nota kesepahaman (MoU), sosialisasi ke sekolah-sekolah, serta keterlibatan pemerintah hingga tingkat RT, RW, kelurahan, dan kecamatan.

Menurut dia, jika program berjalan optimal, kapasitas peserta yang dapat dijangkau berpotensi mencapai sekitar 45 ribu orang, menyesuaikan kebutuhan dan minat masyarakat.

“Yang kami bangun bukan hanya pengiriman tenaga kerja, tetapi sistem pemberdayaan masyarakat agar memiliki akses ke pasar kerja global,” katanya.

Dari Tenaga Kerja hingga Sister City

Menariknya, kerja sama yang ditawarkan tidak berhenti pada sektor ketenagakerjaan.

LPK Serbaindo juga membuka peluang pengembangan sektor kesehatan melalui konsep senior living, yakni layanan perawatan lansia asal Jepang di Indonesia.

Selain itu, muncul pula gagasan membangun hubungan sister city antara Salatiga dengan sejumlah kota di Jepang.

Tak hanya itu, peluang transfer teknologi dan kerja sama pengelolaan sampah dengan Kota Kitakyushu dan Fukuoka Jepang juga ikut menjadi pembahasan.

Lulusan SMA Bisa Jadi Kandidat

Iman menyebut calon peserta yang ingin bekerja ke Jepang harus memenuhi sejumlah persyaratan. Di antaranya berusia 18 hingga 25 tahun, minimal lulusan SMA/SMK atau Paket C, serta mengikuti pelatihan intensif sekitar lima bulan sebelum diberangkatkan.

Pelatihan tersebut bertujuan memastikan calon pekerja memiliki kemampuan bahasa, keterampilan, serta kompetensi sesuai kebutuhan perusahaan Jepang.

Namun, Iman mengakui masih ada tantangan dalam memperkenalkan program tersebut. Salah satunya munculnya stigma negatif terhadap lembaga pelatihan kerja akibat ulah oknum tertentu.

“Kami membutuhkan support system, bukan hanya anggaran. Yang terpenting adalah kolaborasi untuk mengurangi pengangguran dan meningkatkan ekonomi masyarakat,” ungkapnya.

Pemkot Salatiga Siap Gandeng LPK

Wali Kota Salatiga Robby Hernawan menyambut positif rencana tersebut. Menurutnya, program itu sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam menekan angka pengangguran, khususnya bagi lulusan SMA yang belum mendapatkan pekerjaan.

“Kami juga memiliki program pengentasan pengangguran, terutama bagi lulusan SMA yang belum mendapatkan kesempatan bekerja,” ujar Robby.

Ia menegaskan Pemkot Salatiga siap menggandeng berbagai LPK untuk mencetak tenaga kerja yang memiliki keterampilan dan mampu bersaing.

“Pemerintah akan menggandeng Lembaga Pelatihan Kerja untuk memberikan keterampilan, sehingga tenaga kerja bisa siap pakai baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional,” katanya.

Kedua pihak selanjutnya akan melanjutkan pembahasan menuju penyusunan MoU. Sosialisasi ke sekolah-sekolah hingga tingkat pemerintahan paling bawah juga akan dilakukan agar peluang kerja tersebut dapat diakses lebih luas.

Bagi Salatiga, program ini bukan sekadar mengirim pekerja ke luar negeri, tetapi menjadi langkah membangun generasi muda yang memiliki daya saing global.

“Harapannya, program ini dapat memberikan kesempatan kerja lebih luas bagi masyarakat Salatiga dan mendukung visi menjadikan Salatiga sebagai kota yang beda dan mendunia,” pungkas Robby. (*)