SALATIGA | HARIAN7.COM – Raungan gitar rock memecah suasana senja di kawasan Pasar Tegalan, Salatiga. Namun malam itu, musik dari Syrian Band tak berdiri sendiri. Di sela dentuman drum dan petikan gitar, terdengar suara besi beradu dari tangan para empu yang sedang menempa keris.
Panggung pembukaan pameran Gema Ujana berubah menjadi ruang kolaborasi lintas seni. Penari muncul dari balik hamparan kain panjang, bergerak mengikuti irama musik dan dentingan logam. Di sisi lain, para pembatik dengan canting di tangan menorehkan motif di atas kain, berdampingan dengan para empu yang bekerja di hadapan penonton.
Pertunjukan itu menjadi pembuka pameran Gema Ujana, hasil kolaborasi Komunitas Soramata bersama pengelola Pasar Tegalan Tegalombo, Kelurahan Blotongan, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga. Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, Jumat hingga Minggu (5-7/6/2026).
Bagi penyelenggara, Gema Ujana bukan sekadar pameran seni. Acara ini membawa pesan tentang hubungan manusia dengan alam, khususnya hutan yang selama ini menjadi ruang hidup bersama.
Titi Permata dari Komunitas Soramata mengatakan, Gema Ujana merupakan simbol ajakan untuk kembali mendengarkan suara alam yang kian sering terabaikan.
“Gema Ujana sebagai simbol suara hutan yang perlu kita dengarkan. Acara ini dibuat untuk membangkitkan kembali kepekaan terhadap lingkungan,” kata Titi, Jumat (5/6/2026).
Pemilihan Pasar Tegalan sebagai lokasi penyelenggaraan juga memiliki alasan khusus. Kawasan yang masih rindang dan dipenuhi pepohonan itu dinilai selaras dengan tema yang diusung dalam pameran.
Selain itu, Pasar Tegalan memiliki jejak sejarah sebagai destinasi wisata klangenan yang dikenal lewat aneka kuliner tradisional dan sistem transaksi yang dilakukan secara tradisional.
“Ini bagian dari yang ingin kami bangkitkan kembali, bisa menjadi daya ungkit perekonomian,” ujarnya.
Selama tiga hari penyelenggaraan, pengunjung tidak hanya disuguhi pameran karya seni. Berbagai workshop juga digelar, mulai dari membatik, menulis surat, mengepang rambut, parfume oil, cianotype hingga face painting.
Rangkaian acara turut dimeriahkan sejumlah musisi dan komunitas seni, di antaranya Drumblek D’Greates, YNTHN, Syrian, DJ Mang G, Harumirage, Latar Kalitan, LimaSore, Grunge Ane Soeroto, Didot Klasta Harimurti, Bukan Nyamoex, Daun Hijau, dan Bagus Dwi Danto. Penampilan tari dan pantomim dari SMP 8, SMP 3, serta Teater JopaJapu juga menjadi bagian dari perhelatan yang memadukan seni, budaya, dan pesan pelestarian lingkungan tersebut.









Tinggalkan Balasan