YOGYAKARTA | HARIAN7.COM – Pameran seni bertajuk “Transformasi Tanpa Transisi” yang digelar mahasiswa Program Studi S1 Tata Kelola Seni, Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta berhasil menarik antusiasme publik. Selama pelaksanaan pameran, jumlah pengunjung tercatat melampaui target awal penyelenggara.
Kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembelajaran akademik mahasiswa pada mata kuliah Tinjauan Kelola Pameran 1 di lingkungan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta.
Tanaya kepada Harian7.com, Kamis (7/5/2026), mengatakan pameran tersebut berhasil menghadirkan sekitar 200 pengunjung pada hari pembukaan. Sementara hingga pameran berakhir, jumlah pengunjung tercatat mencapai lebih dari 400 orang, melampaui target awal sebanyak 300 pengunjung.
Pada hari pembukaan, rangkaian acara diawali dengan sambutan dari seniman Arahmaiani selaku pembuka pameran. Kegiatan kemudian dilanjutkan sambutan dari Dr. Mikke Susanto serta Dr. Trisna Pradita Putra.
Setelah resmi dibuka, pengunjung diajak mengikuti tur galeri bersama kurator Nabil Hajid Pranata untuk memahami konteks serta gagasan di balik karya-karya yang dipamerkan.
Kegiatan pembukaan turut dimeriahkan berbagai pertunjukan seni, mulai dari performance art lilin oleh Sobri, pertunjukan musik oleh Hendrick Pangkale dan Khaemr, hingga penampilan penutup dari Mario.
Mengusung semangat Mayday, pameran “Transformasi Tanpa Transisi” menghadirkan refleksi mengenai perubahan dari era fisik menuju era digital yang berlangsung tanpa jeda adaptasi. Lewat karya para seniman lintas generasi, pameran ini menyoroti berbagai persoalan sosial, mulai dari peran-peran tak terlihat, ketimpangan, hingga dinamika kehidupan buruh di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Menurut Tanaya, respons pengunjung terhadap pameran tersebut sangat positif dan melampaui ekspektasi penyelenggara. Seluruh rangkaian kegiatan disebut berjalan lancar serta berhasil menghadirkan ruang apresiasi sekaligus refleksi terbuka bagi masyarakat.
“Pameran ‘Transformasi Tanpa Transisi’ diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperluas wacana seni rupa yang tidak hanya berorientasi pada estetika, tetapi juga kesadaran sosial dan pengalaman kolektif masyarakat,” ujar Tanaya.(*)









Tinggalkan Balasan