Hardiknas Jadi Panggung Seruan Politik SDM, PKS: Pemuda Berilmu Penentu Arah Pembangunan Jateng
Laporan: Muhamad Nuraeni
SEMARANG | HARIAN7.COM – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dimanfaatkan sebagai panggung penegasan arah pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Jawa Tengah. Ketua Fraksi PKS Jateng, Muhammad Afif, menegaskan bahwa kualitas pemuda—bukan sekadar angka statistik—akan menjadi penentu laju pembangunan daerah di tengah bonus demografi.
Dalam silaturahmi bersama pelajar dan Karang Taruna Banyumanik, Sabtu (2/5/2026), Afif menyoroti bahwa pendidikan merupakan fondasi utama transformasi sosial dan ekonomi. Ia menilai, tanpa penguatan karakter dan intelektualitas, bonus demografi justru berpotensi menjadi beban pembangunan.
“Pendidikan adalah hulu dari kemajuan. Jika pemuda tidak dibekali ilmu dan karakter, maka sulit berharap Jawa Tengah mampu bersaing di tengah kompetisi global,” ujar Afif.
Ia menegaskan, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tidak bisa dilepaskan dari kesadaran generasi muda untuk terus mengasah kapasitas diri, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal.
Mengutip pesan Imam Syafi’i, Afif menekankan bahwa ilmu menjadi kunci utama kesuksesan di berbagai dimensi kehidupan.
“Barangsiapa ingin sukses di dunia dan akhirat, maka kuncinya adalah ilmu. Ini menjadi dasar bahwa pembangunan manusia harus dimulai dari pendidikan,” katanya.
Dalam perspektif politik pembangunan, Afif juga menilai masa muda sebagai fase krusial yang menentukan arah masa depan bangsa. Ia mengingatkan, energi dan vitalitas generasi muda harus diarahkan pada aktivitas produktif, bukan justru terjebak pada hal-hal yang kontraproduktif.
“Masa muda tidak datang dua kali. Ini momentum untuk membangun kapasitas diri, bukan menyia-nyiakan waktu pada hal yang tidak memberi nilai tambah,” tegasnya.
Afif juga menggarisbawahi bahwa investasi pada pendidikan bukan hanya berdampak pada individu, tetapi juga menentukan daya saing daerah secara kolektif. Menurutnya, pemuda berilmu akan menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus penjaga stabilitas sosial di masa depan.
“Kalau generasi muda serius membangun diri, maka Jawa Tengah akan memiliki fondasi kuat untuk bersaing. Ini bukan hanya soal masa depan pribadi, tapi masa depan daerah,” ujarnya.
Momentum Hardiknas, kata dia, seharusnya tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi titik tekan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan pendidikan benar-benar menjadi prioritas utama dalam kebijakan pembangunan.













Tinggalkan Balasan