Harga Plastik Melonjak, UMKM Kudus Terjepit: Dilema Naikkan Harga atau Kurangi Porsi
Laporan: Tambah Santoso
KUDUS | HARIAN7.COM – Kenaikan harga bahan baku, terutama plastik, mulai menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Kudus. Lonjakan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir memaksa pelaku usaha memutar strategi agar tetap bertahan di tengah kondisi yang kian menantang.
Harga berbagai produk plastik seperti cup minuman, sedotan, hingga kemasan sekali pakai dilaporkan naik signifikan. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya harga bahan baku global, biaya produksi, hingga distribusi. Dampaknya langsung dirasakan oleh pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada kemasan plastik dalam operasional harian.
Di tengah situasi tersebut, pelaku usaha dihadapkan pada dilema. Menaikkan harga jual berisiko menurunkan daya beli konsumen, sementara mempertahankan harga berarti menanggung beban biaya produksi yang terus membengkak. Tak sedikit yang akhirnya memilih jalan tengah dengan mengurangi volume produk.
Salah satu pelaku usaha yang terdampak adalah Hendrik Efendi, pemilik kedai minuman B Tea di Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kudus. Ia mengaku kenaikan harga bahan baku sangat memengaruhi kelangsungan usahanya.
“Cup itu sekarang Rp25 ribu isi 50 pcs. Dulu satu karton sekitar Rp345 ribu, sekarang bisa sampai Rp500 ribu,” ujarnya saat ditemui, Selasa (28/4/2026).
Menurut dia, harga juga bervariasi tergantung merek. Untuk cup dengan sablon tertentu, saat ini harganya berkisar Rp460 ribu per karton.
Kenaikan tak hanya terjadi pada plastik. Bahan baku lain seperti gula dan sedotan juga mengalami lonjakan harga.
“Gula pasir dulu Rp735 ribu per 50 kilogram, sekarang sudah Rp850 ribu. Sedotan premium dulu Rp22 ribu, sekarang Rp30 ribu per 50 pcs. Yang steril polos juga sudah Rp29 ribu,” jelasnya.
Sebelum harga bahan baku naik, Hendrik mengaku penjualannya bisa mencapai 200 cup per hari. Kini, jumlah tersebut menurun seiring kenaikan harga jual.
“Mau tidak mau saya naikkan harga sekitar Rp1.000 per cup. Itu pun margin keuntungan sekarang cuma sekitar Rp500 setelah dipotong bahan baku, listrik, karyawan, dan lainnya,” paparnya.
Meski tertekan biaya, ia menegaskan tetap menjaga kualitas produk yang dijual.
“Saya tetap pakai gula asli, karena kualitas itu penting dan yang saya jual untuk dikonsumsi pelanggan,” katanya.
Hendrik berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menstabilkan harga bahan baku, khususnya plastik. Ia juga mengkhawatirkan kondisi akan semakin berat jika terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
“Kalau bisa harga plastik jangan naik lagi. Kalau BBM ikut naik, usaha kecil seperti kami makin berat untuk bertahan,” ujarnya.
Dampak kenaikan harga ini juga dirasakan konsumen. Lutfia, salah satu pembeli, mengaku perubahan harga mulai memengaruhi kebiasaan belanjanya.
“Kenaikan harga pasti terasa. Harapannya pemerintah bisa menstabilkan harga, karena kalau sudah naik biasanya sulit turun lagi,” katanya.
Ia menambahkan, tekanan semakin terasa karena pendapatan masyarakat tidak selalu ikut meningkat.
“Kalau harga naik terus, sementara pendapatan segitu-segitu saja, kebutuhan lain juga ikut terdampak,” tandasnya. (*)













Tinggalkan Balasan