HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Asap Legendaris dari Blotongan Salatiga, Sate Kambing Pak Mahmud Tetap Setia pada Rasa

Laporan: Muhamad Nuraeni

SALATIGA | HARIAN7.COM – Asap tipis mulai mengepul sebelum matahari benar-benar tenggelam di Blotongan, Kota Salatiga. Di sepanjang Jalan Fatmawati, aroma daging kambing muda yang bersua bara arang menjadi penanda: waktu makan malam telah tiba. Di sanalah Sate Kambing Pak Mahmud memulai ritmenya, nyaris tanpa jeda, dari hari ke hari.

Lapak ini bukan sekadar tempat mengisi perut. Ia menyimpan cerita panjang, berangkat dari dapur sederhana sebuah keluarga. Usaha sate kambing ini telah hidup sejak era 1990-an, dirintis langsung oleh sang bapak, lalu diwariskan ke generasi berikutnya.

Faisal, pengelola yang kini meneruskan usaha keluarga itu, menuturkan perjalanan panjang tersebut. “Mulainya dari dulu, dari bapak. Sekitar tahun 1995,” katanya, Rabu (21/1/2026) malam.

Baca Juga:  Menjelang Pemilihan, Dokter Robby Hernawan Luncurkan Program Tebus Murah Daging Ayam untuk Warga Salatiga

Resep tak berubah. Pakem rasa tetap dijaga. Setiap pagi, aktivitas dapur sudah padat sejak subuh. Daging kambing muda dipotong, diracik, lalu ditusuk satu per satu. Dalam sehari, kebutuhan bahan baku tak sedikit.

“Rata-rata dua ekor kambing muda habis,” ujar Faisal.

Dua ekor kambing itu menghasilkan karkas sekitar 8 hingga 12 kilogram per ekor, siap diolah menjadi sate, tongseng, tengkleng, hingga gulai. Meski harga bahan baku kerap naik turun, warung ini tetap bersahaja soal banderol.

Semua menu dipatok di bawah Rp50 ribu. Sate kambing dijual Rp45 ribu per porsi, sate daging Rp50 ribu. Menu berkuah seperti tongseng dan tengkleng dibanderol sekitar Rp35 ribu, sementara gulai kambing menjadi yang paling terjangkau, Rp30 ribu.

Di antara semua menu, tongseng menempati posisi istimewa. “Best seller rata-rata tongseng,” ujarnya.

Baca Juga:  Rocket Chicken di Salatiga Terbakar, Damkar Gerak Cepat Jinakkan Api

Perpaduan daging kambing muda, kuah gurih, dan bumbu yang meresap menjadikannya menu paling sering dipesan. Sate kambing tetap menjadi penjaga identitas, menu wajib yang tak pernah sepi peminat.

Warung mulai buka pukul 18.00 WIB. Menjelang malam adalah waktu favorit pelanggan. Saat bulan puasa, jam operasional disesuaikan, dibuka lebih awal. Menariknya, pelayanan tak hanya terpusat di lapak utama. Dari rumah yang tak jauh dari lokasi warung, Sate Kambing Pak Mahmud juga melayani pelanggan.

“Kalau di rumah, jam 11 siang sudah buka. Menunya sama,” katanya.

Rumah tersebut berada di RT 02 RW 06, Prampelan, Sidorejo, Blotongan, Kota Salatiga.

Tanpa konsep modern, tanpa dekorasi berlebihan, Sate Kambing Pak Mahmud bertahan dengan kesederhanaan. Arang, kipas bambu, dan tangan-tangan terlatih menjadi andalan. Resep yang diwariskan dari bapak ke anak dijaga seperti sumpah tak tertulis, agar rasa tak berubah meski zaman berganti.

Baca Juga:  Dengan Penuh Kesabaran, Siswi SMAN 2 Salatiga Ini Jadi Tulang Punggung Keluarga dan Rawat Kedua Orang Tuanya Yang Menderita Lumpuh, Camat Argomulyo:"Kami dari pemerintah turut prihatin dan peduli serta telah berikan bantuan"

Di tengah riuh tren kuliner kekinian, warung ini berdiri tenang. Ia tak mengejar sensasi, hanya konsistensi. Dari satu tusuk ke tusuk berikutnya, dari satu generasi ke generasi selanjutnya, asap itu terus mengepul, membawa cerita, rasa, dan kenangan dari Blotongan.

Salah satu pelanggan, KH M Rifa Jamaludin Nasir, mengaku merasakan perbedaan. Sate di tempat ini empuk, sementara tongsengnya punya cita rasa khas. “Rasanya enak banget. Selain itu harganya juga murah dan Sate Kambing Muda Pak Mahmud legendaris banget,” ucapnya sembari menyantap sate.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Content is protected !!