HARIAN 7

JENDELA INFORMASI DAN MITRA BISNIS ANDA

Dugaan Nepotisme dan Kolusi di OJK, DPR Minta Reformasi Sistem Perekrutan

JAKARTA | HARIAN7.COM – Praktik nepotisme dan kolusi di tubuh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali disorot. Anggota Komisi XI DPR, Melchias Markus Mekeng, menuding bahwa penempatan pegawai di OJK masih jauh dari prinsip profesionalisme dan lebih didasarkan pada faktor kedekatan.

Baca Juga:  Tarik Ulur Aset Nuklir Bikin DPR Gerah, Muh Haris: "Jangan Sampai Tragedi Irak Terulang"

“Saya sudah sampaikan langsung ke Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar saat rapat kerja di DPR bahwa di lapangan masih terjadi penempatan pegawai berdasarkan lulusan universitas tertentu,” ujar Mekeng di kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (25/2).

Baca Juga:  Tiga Saksi Diperiksa, Kejagung Dalami Dugaan Korupsi Kredit ke PT Sritex

Menurutnya, fenomena ini menjadi pola yang terus berulang. “Jika pimpinan berasal dari universitas tertentu, seperti UI atau UGM, maka pegawai yang direkrut cenderung berasal dari almamater yang sama. Ini tidak profesional dan harus diperbaiki,” tegasnya.

Baca Juga:  Estafet Kepemimpinan: Polwan Kembali Pimpin Polres Salatiga

Kolusi di Pasar Modal, Investor Dirugikan

Tak hanya nepotisme, Mekeng juga menyoroti dugaan kongkalikong antara pegawai Bursa Efek Indonesia (BEI) dan OJK dalam meloloskan perusahaan yang sebenarnya tidak memenuhi syarat untuk go public.

“Belum lama ini terungkap adanya kongkalikong antara pegawai BEI dan OJK dalam meloloskan perusahaan yang seharusnya tidak layak untuk IPO,” ungkapnya.

Baca Juga:  Polisi Amankan 1.577 Pendemo, 47 Diantaranya Reaktif Corona

Praktik ini, lanjutnya, sangat merugikan investor dan mencederai kepercayaan publik terhadap pasar modal Indonesia. Ia menegaskan bahwa pasar keuangan harus berjalan dengan transparan dan berintegritas, bukan justru dijadikan ajang permainan kepentingan.

Baca Juga:  Gunung Ibu Level Awas: BNPB dan BPBD Siaga Hadapi Potensi Bahaya Erupsi

Desakan Perbaikan Sistem

Mekeng meminta OJK segera mengambil langkah konkret dengan menindak tegas pegawai yang terlibat dalam praktik nepotisme dan kolusi. Ia juga mendesak adanya reformasi dalam sistem perekrutan dan pengawasan internal agar lebih transparan dan berbasis kompetensi.

Baca Juga:  Genjot Tanam Padi di Tengah Kemarau, Gubernur Jateng Targetkan 250 Ribu Hektare April Ini

“OJK harus segera memperbaiki sistem perekrutan agar tidak lagi berbasis like and dislike. Pengawasan internal juga harus diperkuat supaya kasus seperti ini tidak terus berulang,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

SPORT

error: Content is protected !!