KABUPATEN SEMARANG,HARIAN7.COM– Peta persaingan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Karanganyar, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang kian memanas. Salah satu figur kuat yang siap membawa perubahan nyata adalah Wahyu Anfari (45). Pria yang dikenal bersahaja ini resmi maju sebagai bakal calon kepala desa (balon kades) setelah menerima desakan dan dukungan penuh dari masyarakat setempat yang merindukan sosok pemimpin yang peduli.
Saat ditemui di kediamannya pada Jumat (16/10/2026), Wahyu Anfari mengungkapkan bahwa motivasi utamanya maju dalam kontestasi politik tingkat desa ini murni karena panggilan hati dan amanah warga. Ia melihat Desa Karanganyar membutuhkan sosok pemimpin yang mau ngopeni (merawat) dan peduli secara konkret terhadap kondisi masyarakat.
Wahyu menilai, kondisi kemajuan Desa Karanganyar saat ini masih dirasa kurang maksimal jika dibandingkan dengan potensi yang ada. Oleh karena itu, ia tergerak untuk membawa perubahan yang lebih progresif.
“Awal mula saya mau masuk bursa balon kades ini karena dorongan kuat dari warga. Hati saya tergugah karena Desa Karanganyar membutuhkan sosok yang peduli dan mau ngopeni. Saya ingin memperbaiki kondisi desa agar lebih maju, mapan, dan bermartabat dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ujar Wahyu Anfari saat diwawancarai.
Untuk mewujudkan komitmennya, Wahyu telah menyusun visi besar, yaitu mewujudkan Desa Karanganyar yang lebih maju, makmur, dan bermartabat. Visi tersebut ditopang oleh empat misi utama yang berfokus pada reformasi birokrasi, keadilan pembangunan, serta kerukunan sosial, yaitu:
1. Memberikan pelayanan masyarakat yang lebih baik, cepat, dan efisien.
2. Mengoptimalkan pembangunan fisik serta pemberdayaan masyarakat secara adil dan merata.
3. Membangun birokrasi pemerintahan desa yang transparan, bersih, dan bertanggung jawab.
4. Mengoptimalkan kehidupan keagamaan, sosial, dan kebudayaan.
Menyikapi latar belakang masyarakat Karanganyar yang sangat majemuk dan terdiri dari berbagai pemeluk agama—seperti Buddha, Hindu, Katolik, dan Islam—Wahyu menekankan pentingnya konsep wawasan toleransi. Ia menegaskan bahwa dalam kepemimpinannya nanti, tidak boleh ada pihak yang merendahkan atau menjatuhkan agama lain.
Ia mengatakan bahwa semua umat beragama harus saling mendukung dan menjaga keharmonisan demi mencegah terjadinya gesekan sosial. Menurutnya, kerukunan adalah modal utama agar warga bisa hidup makmur, sejahtera, dan damai bersama, sehingga desa menjadi lebih adem ayem.
Ketika ditanya mengenai kesiapannya menghadapi kontestasi, pria yang sehari-harinya dikenal sebagai pekerja keras ini menegaskan tidak ingin mengecewakan para pendukung dan warga. Wahyu menyatakan secara tegas bahwa tujuannya menjadi kepala desa bukanlah untuk mengejar jabatan atau materi, melainkan murni demi memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Ia bahkan menolak prinsip mencari keuntungan pribadi dari Dana Desa dan berkomitmen memegang teguh kejujuran hingga akhirat.
“Saya duduk di sini bukan untuk sekadar memegang jabatan, melainkan ingin punya kontribusi nyata bagi masyarakat. Menjadi lurah (kades) itu bukan memikirkan bayaran atau mencari uang sebanyak-banyaknya dari Dana Desa. Hubungan dan komitmen yang bagus ini akan kita pertanggungjawabkan nanti di akhirat. Dengan prinsip bapak-bapak sekalian, mari kita maju bersama untuk kehidupan masyarakat yang lebih tertata,” pungkas Wahyu dengan penuh semangat.
Di akhir perbincangan, ia berpesan kepada seluruh warga Karanganyar, khususnya para pemilik hak pilih, agar tetap menjaga perdamaian selama proses Pilkades berlangsung. Ia berharap pesta demokrasi ini tidak menimbulkan kursi tegang atau gesekan, melainkan menjadi momentum untuk bersatu demi kemajuan desa.
Sementara itu, Ketua Panitia Pilkades Karanganyar, Yasman, mengonfirmasi bahwa hingga saat ini sudah ada empat bakal calon kades yang resmi mendaftarkan diri untuk bertarung dalam kontestasi tingkat desa tersebut.(Sdq/h7)









Tinggalkan Balasan