Laporan: Muhamad Nuraeni
SEMARANG, HARIAN7.COM – Susu produksi Rumah Susu Indonesia di Desa Kadirejo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, kini menjadi salah satu menu tambahan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Setiap hari, susu olahan berbahan susu segar tersebut dipasok ke sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk kemudian dibagikan kepada siswa di sekolah.
Kepala Desa Kadirejo yang juga Pimpinan Rumah Susu Indonesia, Riyadi, mengatakan penggunaan susu segar dalam program MBG juga menjadi bagian dari upaya membantu peternak.
“Ini sesuai arahan dari Kepala BGN Pak Sudaryono, dalam rangka membantu peternak dalam hal susu. Untuk MBG juga diarahkan menggunakan susu segar yang minimal 80 persen kandungan susunya,” kata Riyadi.
Ia mengatakan, produk yang diolah Rumah Susu Indonesia menggunakan 100 persen susu murni.
Saat ini, Rumah Susu Indonesia telah melayani enam SPPG. Menurut Riyadi, satu SPPG rata-rata melayani sekitar 2.000 hingga 2.600 penerima.
“Untuk saat ini sudah ada enam SPPG yang kita layani dari Rumah Susu ini,” ujarnya.
Untuk bahan baku, Rumah Susu Indonesia bekerja sama dengan koperasi di wilayah Getasan, Kabupaten Semarang. Wilayah tersebut menjadi salah satu sentra susu di Kabupaten Semarang.
“Kita kerja sama dengan koperasi di sana yang membina kelompok-kelompok tani dan juga peternak susu sapi perah,” kata Riyadi.
Dari sisi kapasitas produksi, Rumah Susu Indonesia mampu mengolah hingga 24.000 cup per hari apabila mesin dimaksimalkan.
“Kalau kita maksimalkan mesin ini, sebenarnya bisa 24.000 cup per hari. Artinya kebutuhan bahan bakunya tiga ton per hari,” ujarnya.
Sudah Diberikan kepada Siswa
Kepala TK Harapan Desa Semowo, Eli Sulistiani, mengatakan siswa di sekolahnya telah menerima susu produksi Rumah Susu Indonesia sekitar empat bulan.
Menurut dia, anak-anak menyukai susu tersebut karena rasanya enak dan dinilai lebih segar.
“Alhamdulillah kalau susu dari Rumah Susu Indonesia Kadirejo ini sangat disukai anak-anak. Rasanya juga enak, berkualitas bagus dan kadar gulanya rendah,” kata Eli.
Saat ini, susu diberikan kepada siswa empat kali dalam sepekan.
Eli mengatakan, ketika satu hari tidak mendapatkan susu, sejumlah anak justru menanyakannya.
“Setiap Rabu tidak dapat, anak-anak sangat minta. ‘Bu, susunya mana?’ seperti itu,” ujarnya.
Ia juga mengatakan orang tua siswa memberikan respons positif terhadap pemberian susu tersebut.
“Menurut kami lebih bagus dan lebih segar daripada susu kemasan. Orang tua juga sangat menyarankan susu ini karena kadar gulanya rendah,” kata Eli.
Siswa Sebut Susunya Enak
Hal serupa disampaikan Kepala SD Negeri Kadirejo 03, Rokhaniah. Ia mengatakan susu tersebut mulai diberikan kepada siswa sejak awal tahun ajaran baru pada 13 Juli 2026.
“Mulai tanggal 13 Juli, awal tahun ajaran baru, itu sudah berjalan setiap hari,” kata Rokhaniah.
Menurut dia, susu produksi Rumah Susu Indonesia memiliki rasa yang lebih segar.
“Kalau menurut saya pribadi, lebih enak susu yang ini. Rasanya segar dan tidak terlalu enek,” ujarnya.
Menurut Rokhaniah, bukan hanya dirinya yang merasakan hal tersebut. Guru dan siswa di sekolahnya juga menilai susu tersebut terasa segar.
“Artinya juga turut mendukung produk lokal,” katanya.
Sementara itu, Fahira, siswi kelas VI, mengaku menyukai susu yang diberikan melalui menu MBG.
“Enak,” kata Fahira saat ditanya mengenai rasa susu tersebut.
Ketika ditanya apakah berharap susu tersebut tetap diberikan dalam menu MBG, Fahira menjawab, “Terus.”
Perlu Sosialisasi Susu Pasteurisasi
Riyadi mengatakan masih diperlukan sosialisasi mengenai susu pasteurisasi kepada masyarakat. Menurut dia, belum banyak masyarakat yang memahami produk tersebut.
“Susu pasteurisasi ini perlu pengenalan lebih tajam lagi ke masyarakat supaya dapat menggunakan dan mengenal susu pasteurisasi,” katanya.
Ia menjelaskan, susu pasteurisasi diolah pada suhu sekitar 72 derajat Celsius.
Menurut Riyadi, susu pasteurisasi dapat bertahan sekitar tujuh hari apabila disimpan dalam kondisi dingin. Sementara pada suhu di luar kondisi tersebut, masa simpannya lebih pendek.
Karena itu, pemberian susu kepada siswa disesuaikan dengan jadwal konsumsi di sekolah.
“Di sekolah itu biasanya sudah ada jadwal. Misalkan TK pukul 09.00 saat istirahat pertama, kemudian kalau SMA biasanya saat istirahat kedua,” kata Riyadi.
Masuknya susu produksi Rumah Susu Indonesia ke dalam menu MBG membuat produk olahan susu lokal tersebut kini dikonsumsi siswa di sejumlah sekolah melalui layanan SPPG yang dilayaninya.(*)









Tinggalkan Balasan