Laporan: Tambah Santoso

KUDUS | HARIAN7.COM – Puncak tradisi Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus 1448 H / 2026 M kembali menyedot perhatian ribuan warga. Demi memastikan pembagian nasi berkat ikonik atau yang akrab disebut Nasi Jangkrik berjalan kondusif, Polres Kudus menyiagakan sedikitnya 329 personel gabungan.

Pengamanan skala besar ini turut melibatkan sinergi dari personel Kodim 0722/Kudus, Satpol PP Kabupaten Kudus, hingga Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus.

Langkah antisipatif langsung dimulai sejak Kamis (25/6/2026) dini hari melalui apel kesiapan di Jalan Menara, tepat di depan Masjid Menara Kudus. Apel tersebut dipimpin langsung oleh Kapolres Kudus, AKBP Heru Dwi Purnomo.

Sebelum pasukan bergeser ke titik ploting, Kabag Ops Polres Kudus Kompol Eko Pujiyono bersama jajaran perwira pengendali terlebih dahulu menggelar Tactical Floor Game (TFG). Langkah ini diambil untuk mematangkan pola pengamanan secara visual, memastikan penempatan personel tepat sasaran, serta mematangkan skenario rekayasa lalu lintas dan jalur alternatif di sekitar kawasan Menara Kudus.

Kapolres Kudus, AKBP Heru Dwi Purnomo, menjelaskan bahwa ratusan personel tersebut disebar secara berlapis di berbagai titik krusial.

“Kami menurunkan ratusan personel untuk memastikan seluruh rangkaian pembagian nasi berkat berjalan aman, tertib, dan nyaman. Pengamanan ini tidak hanya soal menjaga situasi, tetapi juga memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujar AKBP Heru Dwi Purnomo.

Ratusan petugas tersebut disiagakan mulai dari area inti pembagian nasi, sepanjang jalur antrean warga, titik pengalihan arus lalu lintas, hingga pos pelayanan dan kesehatan.

Tradisi Buka Luwur sendiri merupakan ritual tahunan sakral yang digelar di kawasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus. Prosesi ini ditandai dengan penggantian kain kelambu (luwur) penutup makam sang wali, yang kemudian dipuncaki dengan pembagian nasi berkat kepada masyarakat luas.

Nasi Jangkrik kuliner khas berbahan nasi dengan lauk daging kerbau atau kambing, tahu, serta kuah santan gurih yang dibungkus daun jati menjadi magnet utama. Bagi masyarakat setempat maupun peziarah luar daerah, hidangan ini dipercaya membawa simbol keberkahan, kebersamaan, dan wujud rasa syukur.

Pantauan di lokasi menunjukkan antusiasme luar biasa. Warga bahkan rela datang dan mengular sejak dini hari demi mendapatkan sebungkus nasi berkat tersebut.

Mengingat padatnya lautan manusia yang hadir, AKBP Heru menginstruksikan kepada seluruh jajarannya untuk tetap mengedepankan pendekatan yang humanis namun tetap tegas.

“Apabila ada masyarakat yang membawa anak kecil maupun lansia, agar diprioritaskan. Jika ditemukan warga yang kelelahan, lemas, atau membutuhkan pertolongan, segera lakukan penanganan awal dan koordinasikan dengan tim medis,” tegas Kapolres.

Selain itu, petugas di lapangan juga diminta aktif memberikan imbauan secara berkala agar warga tetap sabar dan tidak saling berdesakan.
Transparansi informasi juga akan diutamakan, termasuk memberikan info terbuka jika persediaan nasi berkat mulai menipis.

“Kami mengimbau masyarakat untuk mengikuti arahan petugas, menjaga barang bawaan, serta tidak memaksakan diri ketika antrean padat. Dengan kerja sama semua pihak, tradisi Buka Luwur dapat berlangsung aman, lancar, dan khidmat,” pungkas AKBP Heru.